Ibadah Pendalaman Alkitab Surabaya, 29 Agustus 2016 (Senin Sore)
[reload halaman ini - auto reload 10 menit]

Pembicara: Pdt. Dadang Hadi Santoso

Selamat malam, salam sejahtera dalam kasih sayangnya TUHAN kita Yesus Kristus. Kiranya damai sejahtera, kasih karunia, dan rahmat dari TUHAN Yesus Kristus yang sudah senantiasa dilimpahkan dalam kehidupan kita, akan terus melimpah memenuhi kehidupan kita sampai sempurna, sehingga kelak jika TUHAN Yesus datang kembali kedua kali, kitapun juga boleh berbahagia bersama-sama dengan Dia. Terpujilah nama TUHAN!

Markus 10: 17-23
10:17. Pada waktu Yesus berangkat untuk meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil bertelut di hadapan-Nya ia bertanya: "Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"
10:18. Jawab Yesus: "Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja.
10:19. Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!"
10:20. Lalu kata orang itu kepada-Nya: "Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku."
10:21. Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: "Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku."
10:22. Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya.
10:23. Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya di sekeliling-Nya dan berkata kepada mereka: "Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah."

Perikop: orang kaya sukar masuk kerajaan sorga.
Dalam injil Markus, mulai ayat 1-52, tentang pakaian dan tahbisqn imam dan imam besar (mulai aya t17).
Ditahbiskan aritnya dipakai oleh TUHAN untuk melayani TUHAN.

Dalam pembacaaan kita tadi, ada orang kaya datan gkepada Yesus dan bertanya tentang cara untuk mendapatkan hidup kekal/hidup sorgawi--di dalam kerajaan sorga.
Ada dua jawaban Yesus:




  1. Ayat 19= enam hukum taurat; tentang mengasihi sesama.
    Artinya: jawaban Yesus untuk bisa dapat hidup kekal adalah harus mengasihi sesama.

    Jangan membunuh= jangan ada kebencian. Kalau ada kebencian sedikit saja, kita tidak bisa menedpat hidup kekal.
    1 Yohanes 3: 15
    3:15. Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia. Dan kamu tahu, bahwa tidak ada seorang pembunuh yang tetap memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya.

    Mari, jangan ada kebencian-kebencian dalam hidup kita. Kita berbidaah dan melayani TUHAN, tetapi menyimpan kebencian, bahkan mungkin terlalu menyakitkan sampai ktia smapan kebencian sampai kita pahit hati. Termasuk iri hati dan dengki.

    Jangan mencuri= jangan mengambil atua menikmati apa yang bukan jadi hak kita. Kalau bekerja, makanlah dari uang gaji kita, bukan dari uang perusahaan.
    Jangan mengucapkan dusta= tidak boleh ada dusta dalam hidup kita; meneutupi sesuatu utnuk emnolong juga tidak boleh. Ini justru menjerumuskan orang itu dalam dosa sampai maut selama-lamanya.
    Jangan mengingini hak sesamamu= jangan mengurangkan apa yang jadi hak sesama kita.
    Hormati ayah dan ibumu= menghormati orang tua secara jasmani.

    Ini jawaban pertama dari Yesus saat orang kaya datang pada-Nya, yaitu harus mengasihi sesama seperti diri sendiri.

    Markus 10: 20
    10:20. Lalu kata orang itu kepada-Nya: "Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku."

    Tentang jawaban pertama, orang kaya ini mengatakan bahwa ia sudah menuruti semuanya,berarti ia sudah mengasihi sesama, seperti diri sendiri. Tetapi masih ada jawaban kedua.




  2. Markus 10: 21
    10:21. Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: "Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku."

    Jawaban Yesus yang kedua: untuk bisa hidup kekal harus mau ikut Yesus, sebab satu-satunya pribadi yang tahu jalan ke sorga adalah Yesus.

    Mau ikut Yesus= mau dipakai oleh TUHAN untuk melayani TUHAN.

    Syarat untuk dipakai TUHAN: 'juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku' = menjual semua harta,b ukan sebagian.
    Artinya: harus ada penyerahan diri speenuh kepada TUHAN; mengasihi TUHAN lebih dari segala sesuatu yang ada di dalam hidup kita--lebih dari harta, pekerjaan, sesama dan sebagainya.

    Sudah mengasihi sesama, sudah hebat, tetapi masih ada jwaban TUHAn yagn kedua, yaitu harus ada penyerahan diri sepenuh pada TUHAN.

    Markus 10: 22
    10:22. Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya.

    Tanggapan orang kaya terhadap jawaban Yesus yang kedua adalah menjadi kecewa lalu pergi dengan sedih; sama dengan lebih memilih harta/perkara jasmani dari pad aikut TUHAN--berbeda dengan jawaban Yesus yang pertama. Ia tidak jadi ikut TUHAN dan tidka jadi masuk sorga.

    Tidak salah kalau kit apunya harta banyak, tetapi kalau kita dipakai TUHAN, harus ada penyerahan diri sepenuh pada TUHAN. Orang kaya ini lebih memilih uang/perkara jasmani dari pada ikut TUHAN.


Orang kaya ini memiliki banyak harta dan menuruti enam hukum Taurat. Dalam pandangan manusia, orang ini merupakan orang yang berhasil secara jasmani dan orang yang sangat baik. Tetapi dalam pandangan TUHAN berbeda. Dalam pandangan TUHAN, ini adalah orang yang gagal total dalam keberhasilannya secara jasmani.
Mengapa? Karena tidak mau ikut TUHAN untuk dipakai oleh TUHAN melayani TUHAN= tidak mau menyerahkan diri sepenuh kepada TUHAN--tidak mengasihi TUHAN lebih dari segala sesuatu. Ini yang kurang dan seringkali lupa. Seringkali kita puas kalau sudah dipuji orang 'baik', tetapi kalau hanya masih kaya atau baik, kalau belum dipakai TUHAN, ia masih gagal di hadapan TUHAN. Yang kurang adalah tidak mau ikut TUHAN; tidka mau mengasihi TUHAN lebih dari segala sesuatu. Sudah mengasihi sesama, tetapi tidak mengasihi TUAHN, maka kasih itu tidak ada gunanya--berdusta. Kalau kita mengasihi TUHAN harus mengasihi sesama, begitu juga sebaliknya.

1 Yohanes 4: 20-21
4:20. Jikalau seorang berkata: "Aku mengasihi Allah," dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.
4:21. Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya.

Mengasii sesama, tetapi tidak ada kasih pada TUHAN, itu sama dengan tidak punya kasih.

Mari, yang TUHAN yang tekankan adalah hanya satu kekurangan kita. Yang jasmani, mungkin sudah berhasil dan baik, tetapi satu yang TUHAN tuntut yang masih seringkali kurang, yaitu kurang menyerahkan diri sepenuh pada TUHAN; kurang mengikut TUHAN. Orang tidak mau mengikut TUHAN bukanlah orang yang tidak beribadah, ia beribadah, tetapi tidak mau dipakai TUHAN.

Jaid, yang punya harta lebih jangan sombong; yang belum punya harta lebih jangan minder, karena bukan yang jasmani ukuran keberhasilan di hadapan TUHAN, tetapi yang rohani, yaitu kehidupan yang mau ikut TUHAN; menyerahkan hidup sepenuh pada TUHAN untuk dipakai melayani TUHAN.
Kaya atau miskin, kalau tidak mau ikut TUHAN, ia sama dengan orang gagal di hadapan TUHAN, sampai puncak kegagalan adalah tidak bis amasuk dalam kerajaan sorga.

Markus 10: 22-23
10:22. Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya.
10:23. Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya di sekeliling-Nya dan berkata kepada mereka: "Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah."

Uang boleh kita punya, tetapi itu semua tidak bisa membuat kita masuk kerajaan sorga. Jaawaban TUHAN: penuhi hukum taurat: kasihi sesama dan ikut Aku. Tetap orang kaya ini pergi dan tidak jadi ikut TUHAN. Orang kaya dan miskin sama, kalau tidak mau dipakai TUHAN, ia sama dengan orang gagal di hadpan TUHAN dan tidak bisa masuk kerajaan sorga.

Perumpamaan Yesus naik ke keledai masuk Yerusalem, itulah keberhasilan. Kalau belum dipakai TUHAN, sekalipun sudah didandani, hidup itu belum indah--seperti beli mobil baru, tetapi tidak pernah dipakai, tidak ada gunanya kalau belum dipakai, tidak ada gunanya.

"Saya dulu mengemudi mobilnya pak Wi, satu power steering, satu tidak. Goncang mobilnya, tetapi sampai. Sederhana, tetapi kalau bisa mengantarkan tuannya, itu berguna."

Sekali lagi, bukan yang jasmani, tetapi yang rohani. Tetapi kalau belum dipakai TUHAN, masih belum berhasil. Apalagi yang belum punya apa-apa. Jangan menolak kalau TUHAN mau memakai hidup kita!

Tanda kehidupan yang tidak mengasihi TUHAN--tidak mau mengikut TUHAN; tidak mau menyerahkan diri pada TUHAN--: kuatir. Jawaban Yesus yang kedua: 'Juallah hartamu dan ikut Aku.' Logika mulai jalan, kalau dijual semua, nanti isteri makan apa, anak makan apa? Kecewa dan ia pergi. Inilah kekuatiran.
Jadi, orang kaya juga bisq akuatir kalau tidak mengasihi TUHAN; tidak mau dipakai oleh TUHAN.

"Saya dulu tahun 2002 sudah bernazar pada TUHAN. Saya sampai hampir matii karena over dan sudah di alam tidak sadar, saya janji pada TUHAN: Kalau Engkau izinkan say ahidup, say amau jadi hamba TUHAN. Tahun 2000, om saya bilang: Nanti kamu pasti masuk Lempin-El. Dalam hati: Ah, tidak mungkin. Tetapi tahun 2002 terjadilah. Saya hidup lagi, tetapi adik saya katakan: Kamu jadi hamba TUHAN mau makan apa? Saya kuatir dan tidka jadi masuk Lempin-El, kerja dulu sampai 2004. Baru 2004 saya menyerah dan mau jadi hamba TUHAN. Ada dua formulir, yang pertama sudah saya isi dan mau saya kriim, tetapi yang Malang datang. Kehendak TUHAN, yang pertama dibatalkan, akhrinya ke Malang dan bisa bertemu bapak/ibu. Luar biasa berkat TUHAN, terutama bertemu pengqajaran yang benar. Namanya orang desa, persepuluhannya banyak berupa tebu dan lain-lain. Tetapi jemaat mengerti dan dijual dulu, baru persepuluhannya untuk hamba TUHAN."

Kekuatiran ini adalah tentang:




  • hidup sehari-hari: makan, minun, sandang, papan.

  • Masa depan: Bagaimana kalau jadi hamba TUHAN, bagaimana kalau khotbah. Juga kuatir soal jodoh, sampai soal kematian.

    "Saya sampaikan juga kepada jemaat di Ngawi. Jangan takut kalau nanti meninggal dunia, siapa yang menguburkan. Kalau mati pasti dikuburkan, apalagi punya KTP. Saya tanggung jawab."


Banyak kekuatiran samai tidak mau mengikut TUHAN.
Matius 6: 31-33
6:31. Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?
6:32. Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.
6:33. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

Praktik kekuatiran:




  1. tidak bisa mengutamakan TUHAN lewat ibadah pelayanan kepada TUHAN. Katanya mau masuk kerajaan roga, tetapi tidak mau cari TUHAN.
    Tidak mau mengutamakan TUHAN lewat ibadah pelayanan= tidak setia dalam ibadah pelayanan; selalu terhalang.




  2. Tidak bisa hidup benar.
    Hidup benar dimulaid ari firman pengajaran yang benar. Firman pengajaran benar adalah pribadi Yesus--kepala. Kalau kepalanya tidak benar, semuanya tidak benar. Karena kuatir, hidupnya tidak bisa benar. Mulai dari pengajaran tidak bisa benar, campur sana sini. Kemudian semuanya tidak benar sampai langkah-langkahnya juga tidka benar, tidak bisa memuliakan TUHAN.
    Kalau hamba TUHAN kuatir, soal pengajaran pasti tidak benar, apalagi kalau sudah tahu mana yang benar dan tidak benar. Tahbisan juga menjadi tidak benar.


Mengapa tidak bisa mengutamakan TUHAN dan hidup benar? Karena mengejar perkara jasmani lebih dari yang rohani--kuatir.

"Saya dulu pertama di Ngawi jalan kaki ke mana-mana. Ada berkat, beli sepeda biasa.. nikmati saja, karena ajaran di Lempin-El: lebih baik ditolak bersama dengan ajaran yang benar. Lalu diberkati lagi, pakai sepeda motor. Itu berkat TUHAN. Jangan kejar perkara jasmani lebih dari TUHAN!"

1 Timotius 6: 9-10
6:9. Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.
6:10. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.

Akibat kekuatiran--ingin cepat kaya secara jasmani--:




  1. Jatuh dalam pencobaan. Masalah terus terjadi.

    Kemudian Jatuh ke dalam jerat--pencobaan menjadi jerat dalam hidup kita. Jadi nafsu, sampai celaka.

  2. Tenggelam dalam dosa, yaitu dosa cinta akan uang, sampai puncaknya dosa: dosa makan-minum dan kawin-megawinkan.




  3. Runtuh rohaninya; gugur dari iman yang benar. Tadinya beribadah melayani TUHAN, tetapi karena kuatir, rohaninya gugur--tinggalkan ibadah pelayanan dan pengajaran benar untuk mengejar yang jasmani--; kehilangan keselamatan--kehilangan segala-galanya.

    Contoh: Petrus. Perus sudah menerima panggilan dan pilihan TUHAN menjadi rasul. Tetapi karena kuatir setelah Yesus mati--tidak ada yang memecah-mecahkan roti--, akhinya ia menjadi penjala ikan. Kuatir tentang hidup sehari-hari, masa depan dan lain-lain.

    Yohanes 21: 1-3, 7
    21:1. Kemudian Yesus menampakkan diri lagi kepada murid-murid-Nya di pantai danau Tiberias dan Ia menampakkan diri sebagai berikut.
    21:2. Di pantai itu berkumpul Simon Petrus, Tomas yang disebut Didimus, Natanael dari Kana yang di Galilea, anak-anak Zebedeus dan dua orang murid-Nya yang lain.
    21:3. Kata Simon Petrus kepada mereka: "Aku pergi menangkap ikan." Kata mereka kepadanya: "Kami pergi juga dengan engkau." Mereka berangkat lalu naik ke perahu, tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa.
    21:7. Maka murid yang dikasihi Yesus itu berkata kepada Petrus: "Itu Tuhan." Ketika Petrus mendengar, bahwa itu adalah Tuhan, maka ia mengenakan pakaiannya, sebab ia tidak berpakaian, lalu terjun ke dalam danau.

    (terjemahan lama)
    21:3. Maka kata Simon Petrus kepada mereka itu, "Aku
    hendak pergi menangkap ikan." Maka sahut mereka itu kepadanya, "Kami pun hendak pergi besertamu." Maka pergilah mereka itu berperahu; maka pada malam itu suatu pun tiada yang didapatinya.

    'hendak'= keinginan; nafsu.
    Terjun ke danau= jatuh dalam dosa sampai puncaknya dosa--kesegaran dunia.
    Inilah kekuatiran Petrus. Kalau sudah kuatir, benar-benar muncul kehendak daging. Kalau sudah ada kehendak daging, sudah tidak peduli lagi, sudah kuat sekali kuatirnya dan tidak bisa dihalangi. Petrus ini murid paling tua.
    Kaum muda, kalau sudah kuatir , hati-hati, nanti kehendak daging muncul begitu kuat dan tidak bisa dihalangi siapapun. Tidak peduli ibadah pelayanan, tabhisan, pengajaran yang benar dan TUHAN. Karena itu, tadi murid-murid sampai tidak kenal TUHAN yang sudah mengangnat mereka. Ini bahayanya kalau kuatir. Kalau TUHAN saja tidak dikenal, apalagi cuma gembala atau orang tua. Soal apapun, yang penting dapat ikan--jodoh, pekerjaan dan lain-lain--, sudah tidak peduli dengan apapun dan sulit untuk dikembalikan.

    "Karena itu kalau masi di Lempin-El, ini adalah persekutuan tahi kambing. Kalau sudah keluar, sudah tidak menyatu dalam pengajaran yang benar, yang penting dapat ikan, tidak peuli pengajarannya benar atau tidak. Sudah tidak peduli lagi."

    Yohanes 21: 15-17
    21:15. Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku."
    21:16. Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku."
    21:17. Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: "Apakah engkau mengasihi Aku?" Dan ia berkata kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku.

    Ayat 15= TUHAN bertanya apakah Petrus mengasihi Dia lebih dari semua? Dijawab: tidak lebih.
    Setelah dikoreksi lewat tiga kali pertanayan Yesus, ternyata Petrus tidak punya kasih. Selama ini ia melayani TUHAN--kelihatannya saja melyani--, tetapi tidak punya kasih. Segala sesuatu tanpa kasih, kosong, tidak ada faedahnya. Biarpun kita berbuat ini itu, kalau tidak punya kasih, tidak ada gunanya.
    Petrus kelihatan melayani dan mengasihi TUHAN--saat Yesus di Getsemani dan mau ditangkap, ia memutus telinga Malkus, kelihatannya mengasihi TUHAN--, tetapi sebenarnya ia tidak punya kasih.
    Kasih itu kekal. Petrus tinggalkan pelayanan karena ia memang tidak punya kasih dan hidup dalam kekuatiran.

    Kaum muda, kalau tidak punya kasih, tidak akan kekal. Sulit sedikit, akan kuatir dan kehendak daging yang bersuara.

    Ini pelajaran yang penting bagi kita. Dan kalau terus menerus hidup tanpa kasih, hidup itu akan hancur dan binasa untuk selamanya--hilang dari hadapan TUHAN dan jalan TUHAN. Petrus gagal total dan telanjang karena kuatir dan tidak punya kasih.

    Tadi, Yesus mengajukan tiga kali pertanyaan kepada Petrus. Ini menunjuk pada firman penggembalaan yang diulang-ulang lewat ketekunan dalam tiga macam ibadah pokok.
    Inilah firman yang diulang-ulang pada kehidupan yagn sudha gagal, telanjang dan mengarah pada kehancuran dan kebinasaan. Berarti TUHAN masih mau menolong. Kalau masih ada firman penggembalaan yagn diulang-ulang, berarti TUHAN masih mau menolong kita; mau menajdikan kehidupan yagn gagal dan telanjang bahkan mengarah pad akehancuran/kebinasaan, bisa berhasil dan kembali pada TUHAN. Tinggal kit amau atau tidak. Kalau mau, kita tertolong; kalau tidak, akan hancur dan binasa.

    Petrus memilih sikap yang positif, yaitu ia mau menanggapi firman; masih mau mendengar firman penggembalaan dengan sungguh-sungguh, dengan suatu kebutuhan, sampai sedih hati--pada pertanyaan yang ketiga, sedih hati Petrus.

    Sedih hait= sadar, menerima tegoran firman penggembalaan, dan mau mengaku kesalahan, kekurangan dan dosa-dosa kita kepada TUHAN. Dan masi hada kesempatan untuk dtolong oleh TUHAN.

    Mari, kalau hidup kit asudha ada yang mengarah pada kehancuran, sudah tinggalkan TUHAN untuk dapatkan ikan, memang dapat, tetapi malam ini, kalau mau menanggapi firman TUHAN, masih ada kesempatan untuk ditolong TUHAN dan bisa menerima kasih Allah dari sorga. Posisi orang yang mengaku dosa adalah merendahkan diri. Kalau kita merendahkan diri, maka kasi tempat tiinggi akan dicurahkan kepada kita.
    Tetapi, kalau selalu menolak firman, satu waktu tidak ada lagi kesempatan untuk ditolong TUHAN. Kalau hati masih tertuduh saaat firman diberitakan, berarti masih bisa ditolong TUHAN. Tetapi kalau tidak tertuduh lagi, berarti tidak bisa dtiolong TUHAN.

    Petrus mengalami. Begitu ia sadar dan mengaku, ai dapatkan kasih dari sorga; kasih yagn sesungguhya adalah kasih dari sorga. Ia terima dari TUHAN.

    Bukti Petrus menerima kasih Allah dari sorga: Yohanes 21: 18-19
    21:18. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki."
    21:19. Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: "Ikutlah Aku."

    Tadinya Petrus tidak mau salib, tetapi setelah menerima kasih, ia beri menghadapi semua.




    1. Tidak ada kekatiran lagi, yaitu bisa mengutamakan perkara rohani dengan setia, tanggung jawab, benar dan baik, lebih dari segala perkara jasmani. Juga Berpegang teguh pada firman pengajaran yang benar apapun yang dihadapi, bahkan sampai kematian. Firman ini berkaitkan dengan tahbisan. Kalau firmannya salah, tahbisannya juga salah.
      Petrus mati disalib dengan kepala di bawah, padahal dulunya ia menolak salib TUHAN--sesudah menerima kasih dari sorga, ia benar-benar mengasihi TUHAN, bukan hanya kelihatan mengasihi TUHAN.

      Mari, utamakan ibadah pelayanan dan pegang teguh pengajaran yang benar apapun resikonya! Hati-hati sekarang pengajaran asing banyak dimasukkan dalam gereja TUHAN.




    2. Kirsah Rasul 3: 6-7
      3:6. Tetapi Petrus berkata: "Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!"
      3:7. Lalu ia memegang tangan kanan orang itu dan membantu dia berdiri. Seketika itu juga kuatlah kaki dan mata kaki orang itu.

      Bukti kedua: bisa mengasihi sesama seperti diri sendiri, yaitu mengulurkan tangan untuk membantu sesama yang membutuhkan. Bukan hanya supaya kelhiatan baik, tetapi sungguh-sungguuh murni, karena kasih yang diterima dari sorga.




    3. Yohanes 21: 18
      21:18. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki."

      Bukti ketiga: bisa mengasihi TUHAN lebih dari semua, yaitu bis amengulurkan tangan kepada TUHAN--taat dengar-dengaran pada TUHAN sampai daging tidak bersuara--, bukan lagi kehendak sendiri. Ini sama dengan menyerahkan diri sepenuh pada TUHAN ('membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki').

      Mari, kalau kita bisa mengulurkan tangan pada TUHAN--bukan karena butuh, tetapi karena mengasihi TUHAN--, Ia pasti mengulurkan dua tanga-Nya kepada ktia untuk melakukan mujizat-mujizat dalam hidup kita: