Ibadah Raya Surabaya, 19 Februari 2017 (Minggu Siang)
[reload halaman ini - auto reload 10 menit]

Salam sejahtera dalam kasih sayangnya TUHAN kita Yesus Kristus. Selamat siang, selamat mendengarkan firman TUHAN. Biarlah kasih sayang, damai sejahtera dan berkat TUHAN senantiasa dilimpahkan dalam hidup kita sekalian.

Wahyu 5: 5-10
5:5. Lalu berkatalah seorang dari tua-tua itu kepadaku: "Jangan engkau menangis! Sesungguhnya, singa dari suku Yehuda, yaitu tunas Daud, telah menang, sehingga Ia dapat membuka gulungan kitab itu dan membuka ketujuh meterainya."
5:6. Maka aku melihat di tengah-tengah takhta dan keempat makhluk itu dan di tengah-tengah tua-tua itu berdiri seekor
Anak Domba seperti telah disembelih, bertanduk tujuh dan bermata tujuh: itulah ketujuh Roh Allah yang diutus ke seluruh bumi.
5:7. Lalu datanglah Anak Domba itu dan menerima gulungan kitab itu dari tangan Dia yang duduk di atas takhta itu.
5:8. Ketika Ia mengambil gulungan kitab itu, tersungkurlah keempat makhluk dan kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Anak Domba itu, masing-masing memegang satu kecapi dan satu cawan emas, penuh dengan kemenyan: itulah doa orang-orang kudus.
5:9. Dan mereka menyanyikan suatu nyanyian baru katanya: "Engkau layak menerima gulungan kitab itu dan
membuka meterai-meterainya; karena Engkau telah disembelih dan dengan darah-Mu Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa.
5:10. Dan Engkau telah membuat mereka menjadi suatu kerajaan, dan menjadi imam-imam bagi Allah kita, dan mereka akan memerintah sebagai raja di bumi."

Ayat 1: gulungan kitab ada di tangan kanan TUHAN di sorga, dan sekarang diberikan kepada kita di dunia lewat wahyu/pembukaan firman. Di sini tidak ada yang membukakan sampai rasul Yohanes menangis.

Siapa yang layak/dapat membuka gulungan kitab dengan ketujuh meterainya--membukakan rahasia firman--? (diterangkan mulai dari Ibadah Pendalaman Alkitab Surabaya, 09 Januari 2017)




  1. Ayat 5= Yesus sebagai singa dari suku Yehuda dan tunas Daud yang telah menang (sudah diterangkan mulai dari Ibadah Raya Surabaya, 15 Januari 2017 sampai Ibadah Raya Surabaya, 22 Januari 2017)--Yesus sebagai Raja membukakan firman, untuk menggembalakan dan memakai bangsa kafir untuk kemuliaan TUHAN.




  2. Ayat 6-10= Yesus sebagai Anak Domba yang tersembelih (diterangkan mulai dari Ibadah Pendalaman Alkitab Surabaya, 30 Januari 2017).


AD. 2. YESUS SEBAGAI ANAK DOMBA YANG TERSEMBELIH

Pembukaan firman Allah dikaitkan dengan Yesus sebagai Anak Domba yang tersembelih, artinya: pembukaan firman Allah mendorong kita untuk mengalami PENEBUSAN DAN PENDAMAIAN oleh darah Yesus; Yesus yang sudah mati di kayu salib, untuk menebus dan memperdamaikan setiapd dosa kita. Setiap mendengar firman gunanya untuk mengalami penebusan dan pendamaian.

Permulaan kitab suci ditandai dengan lima kitab Musa, akhir dari kitab suci ditandai dengan lima kitab dari Rasul Yohanes. Angka lima adalah angka penebusan.
Jadi, setiap mendengar firman gunanya untuk mengalami penebusan dan pendamaian dari dosa-dosa, kita bisa lepas dari dosa; bukan untuk tertawa-tawa.

Mengapa kita harus mengalami penebusan/pendamaian dari dosa-dosa oleh darah Yesus?

Efesus 2 : 1

Sebab dosa membuat kita mati rohani--'kamu dahulu sudah mati'--artinya tidak ada gairah dalam perkara rohani, tidak bisa beribadah melayani TUHAN, tidak bisa menyembah TUHAN. Kalau dibiarkan akan terpisah untuk selamanya, berarti menuju kematian kedua, neraka selamanya. Oleh karena itu Yesus mau menjadi Anak Domba yang tersembelih, supaya dapat menebus kita dari dosa-dosa.

Jadi, setiap manusia berdosa harus ditebus oleh darah Yesus supaya bisa kembali pada TUHAN--hidup benar--bisa beribadah dan melayani TUHAN dan bisa tersungkur menyembah TUHAN.

Wahyu 5 : 7-8

Pembukaan firman Allah yang dikaitkan dengan Anak Domba yang tersembelih mendorong kita untuk mengalami penebusan dan pendamaian dari dosa-dosa sehingga kita bisa tersungkur menyembah TUHAN.

Tersungkur menyembah TUHAN, baik di bumi dan di sorga harus sama. Jadi, ibadah pelayanan yang benar dan penyembahan yang benar merupakan pantulan dari penyembahan di sorga. Harus sama dengan sorga, jangan mencontoh yang lain! Sebab kita menuju ke sorga.

Tanda penyembahan yang benar merupakan pantulan dari penyembahan di sorga:

  1. Wahyu 5:8

    Tanda yang pertama: 'satu cawan emas' = kebenaran dan kesucian.




  2. Tanda yang kedua: 'masing-masing memegang satu kecapi' arti rohaninya:


AD.2 'masing-masing memegang satu kecapi'
1 Samuel 16 : 23

Ketika Roh Kudus pergi dari Saul, maka roh jahat yang masuk.
'roh jahat dari TUHAN' = maksudnya diizinkan oleh TUHAN.
Bagaimana untuk mengusir roh jahat? Daud memainkan kecapi sehingga roh jahat itu pergi dari Saul, dan Saul merasa lega dan nyaman.

Kecapi artinya urapan Roh Kudus. Penyembahan sorga--penyembahan yang benar--adalah penyembahan dalam urapan Roh Kudus.

Proses menerima urapan Roh Kudus:

Kisah Rasul 19 : 1-6

=tentang jemaat di Efesus.




  • 'ketika kamu percaya' = iman / percaya kepada Yesus lewat mendengar firman Allah dalam urapan Roh Kudus. Dimana ada firman diberitakan, di situ ada urapan.




  • Bertobat.
    Kalau firman menjadi iman di dalam hati, maka ada rem yang pakem sehingga kita tidak berbuat dosa; sama dengan bertobat; berhenti berbuat dosa, kembali pada TUHAN; mati terhadap dosa.




  • Baptisan air.
    Kita dibaptis seperti Yesus dibaptis. Yesus dibaptis untuk menjadi contoh bagi kita.

    Matius 3 : 16

    Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air; ini yang menjadi pedoman bagi kita. Sejauh mana keluar dari air?

    Roma 6 : 4

    Keluar dari air artinya keluar dari kuburan air. Jadi baptisan air yang benar--kita dibaptis seperti Yesus dibaptis--yaitu orang yang sudah mati terhadap dosa, harus dikuburkan dalam air bersama Yesus, kemudian bangkit/keluar dari kuburan air bersama Yesus untuk mengalami hidup sorgawi, yaitu urapan Roh Kudus sehingga memilik hati yang tulus seperti merpati--Roh bagaikan burung merpati--atau seperti bayi yang baru lahir.


Jadi, penyembahan yang benar/penyembahan sorgawi adalah penyembahan dengan hati tulus seperti merpati dan hati yang tulus seperti bayi yang baru lahir. Ini dibela oleh TUHAN. Ketika murid-murid menghalang-halangi anak-anak kecil datang pada TUHAN, TUHAN berkata: 'orang-orang seperti inilah yang empunya kerajaan sorga.'

Praktik menyembah dalam urapan Roh Kudus:

  1. 1 Samuel 16 : 23

    '
    Saul merasa lega dan nyaman' = saat dirasuk roh jahat, Saul tidak bisa tidur. Tetapi begitu ada urapan Roh Kudus ada ketenangan dan kelegaan.

    Praktik yang pertama: menyembah dalam ketenangan--damai sejahtera, enak dan ringan.




  2. Mazur 43 : 4

    Praktik yang kedua: penyembahan yang benar dalam urapan Roh Kudus yaitu penyembahan dalam sukacita sorga; kebahagiaan sorga/kepuasan dari sorga, sehingga kita tidak akan terpengaruh oleh kesukaan dunia yang menjerumuskan kita kepada dosa-dosa sampai puncaknya dosa. Atau tidak dipengaruhi oleh kesusahan dunia sehingga kita tidak putus asa dan tidak kecewa.

    Saat kita gemar menyembah TUHAN, di situ ada sukacita sorga. Kita tidak akan dipengaruhi oleh kesukaan maupun kesusahan dunia.

    Hati-hati, jangan terpaksa menyembah TUHAN! Kalau sekarang kita terpaksa menyembah TUHAN, satu waktu kita akan dipaksa untuk menyembah antikris. Daging memang tidak kuat, tetapi urapan Roh Kudus yang menolong kita.




  3. Wahyu 15 : 2

    Ini merupakan perulangan dari laut Kolsom, nanti menjadi lautan kaca. Baptisan air--laut Kolsom--menentukan nasib kita nantinya, apakah kita bisa menuju lautan kaca atau tidak. Kalau baptisan kita benar dan hasilnya benar, maka kita bisa melintasi lautan kaca.

    Praktik yang ketiga: menyembah TUHAN dalam suasana kemenangan yaitu kemenangan atas antikris.

    Artinya:

    • Menang atas penyembahan berhala / penyembahan kepada mammon yaitu kikir dan serakah.
      Kikir= tidak bisa memberi, baik untuk pekerjaan TUHAN maupun sesama yang membutuhkan.
      Serakah= mencuri milik TUHAN--perpuluhan dan persembahan khusus--, mencuri milik sesama.

      Lewat penyembahan yang benar/dalam urapan Roh Kudus, kita bisa menang terhadap antikris yaitu bisa mengembalikan perpuluhan dan persembahan khusus, bisa memberi untuk pekerjaan TUHAN dan sesama yang membutuhkan sampai bisa memberikan seluruh hidup kepada TUHAN.




    • Tidak dicap dengan angka 666, tetapi dimeterai dengan nama Yesus--menjadi mempelai wanita TUHAN selamanya.
      Cap 666 diselar dengan besi panas, tidak bisa dihapus kecuali dengan darah Yesus. Nanti saat antikris berkuasa, cap antikris 666 hanya bisa dihapus dengan darah sendiri.


Wahyu 5 : 9

Penyembahan dalam urapan Roh Kudus, sampai kepada nyanyian baru.

Mazmur 33 : 3

Penyembahan dalam urapan Roh Kudus, merupakan resonansi yang saling menguatkan satu dengan yang lain, sehingga akan menjadi nyanyian baru.

Mazmur 149 : 1

Nyanyian baru adalah 'haleluya'.

Wahyu 14 : 1-3

=ini inti mempelai wanita TUHAN dari bangsa Israel. Mempelai wanita TUHAN terdiri dari dua bagian, yaitu bangsa Israel dan bangsa kafir; ada juga yang mati dengan yang hidup. Yang menjadi intinya adalah bangsa Israel, mereka dimeterai dengan nama TUHAN; kita bangsa kafir juga dimeterai dengan nama TUHAN menjadi satu kesatuan tubuh Kristus yang sempurna.

Wahyu 19 : 6-7

Bunyi kecapi dan suara bagaikan desau air bah adalah 'haleluya', ini nyanyian penyembahan dari mempelai wanita sorga kepada Mempelai Pria Sorga, Raja segala raja.

Wahyu 19 : 1, 3-4, 6

Penyembahan kepada Mempelai Pria Sorga dengan 'haleluya' sama dengan suara mempelai, sama dengan suara merpati. Baptisan air menentukan nantinya kita akan memiliki suara apa saat Yesus datang kedua kali. Kalau hati kita tulus seperti merpati, maka kita akan memiliki suara merpati.

Kidung Agung 2 : 14

Hati, mulut dan wajah ini yang menetukan. Kalau hati tulus seperti merpati, akan menghasilkan suara merpati, dan wajah akan menjadi elok.

Penyembahan mempelai--suara merpati--terdiri dari dua bagian:

  • Penyembahan dengan suara merdu= penyembahan dalam suasana kebangkitan (pengalaman bukit/gunung)--karena sudah diberkati, sudah ditolong TUHAN dan lain-lain.




  • Nahum 2 : 7

    =suara mengadu/erangan= penyembahan dalam suasana kematian (pengalaman lembah)--diizinkan mengalami pencobaan, tidak salah tetapi disalahkan.


Pengalaman lembah dan gunung ini yang menjadi alunan nyanyian baru--suara merdu di hadapan TUHAN--, sehingga kita mengalami pembaharuan hidup dari manusia daging menjadi manusia rohani, sampai menuju kesempurnaan.

Contoh: raja Hizkia, diizinkan oleh TUHAN mengalami erangan. Posisinya sebagai raja sudah enak, tetapi satu waktu diizinkan turun oleh TUHAN.

Yesaya 36 : 12

Yesaya 37 : 14-17

Menghadapi Sanherib--krisis yang hebat--maksud TUHAN supaya raja Hizkia mengalami pembaharuan empat indera, yaitu:

  • telinga= dengar-dengaran kepada TUHAN.

  • Mata= hanya memandang TUHAN.

  • Mulut= berdiam diri.

    Yesaya 36 : 21




  • Hidung= hanya menyembah TUHAN.


Tadi, raja Hizkia mengalami lembah kesukaran, sehingga mengalami pembaharuan empat indera, tetapi masih kurang satu yaitu pipi masih belum dibaharui.

Yesaya 38 : 1-3

Raja Hizkia diizinkan mengalami lembah maut, dia menghadapi penyakit dan divonis mati oleh TUHAN supaya mengalami pembaharuan pipi/kulit/hati--perasaan yang terdalam. Raja Hizkia hanya menangis seperti bayi kepada TUHAN, hanya percaya dan berharap anugerah TUHAN yang besar.


Jangan berhanti menangis, sampai Dia berbelas kasihan! Seperti bayi yang membutuhkan susu, dia tidak akan berhenti menangis sebelum mendapatkan susu.

Kalau kita diizinkan TUHAN turun ke lembah, maksudnya supaya kita mengalami pembaharuan panca indera. Dia sanggup menjadikan apa yang sudah mati menjadi hidup kembali, dan wajah kita diubahkan menjadi wajah berseri sampai wajah yang mulia seperti Yesus.
Saat Yesus datang kedua kali, wajah kita mulia seperti Yesus untuk menyambut kedatangan Yesus yang kedua kali, sampai kita duduk di takhta bersama dengan TUHAN selamanya.

TUHAN memberkati.