Ibadah Raya Surabaya, 07 Februari 2016 (Minggu Sore)
[reload halaman ini - auto reload 10 menit]

Salam sejahtera dalam kasih sayangnya TUHAN kita Yesus Kristus. Selamat malam, selamat mendengarkan firman TUHAN. Biarlah damai sejahtera, kasih karunia dan bahagia dari TUHAN senantiasa dilimpahkan di tengah-tengah kita sekalian.

Wahyu 4: 2

Rasul Yohanes dikuasai oleh Roh Kudus sehingga melihat takhta di sorga dan melihat Seorang yang duduk di takhta itu. Takhta ini juga pernah dilihat oleh nabi Yesaya.

Yesaya 6 : 1

Dalam Yesaya 6:1, ada 2 macam takhta:

  1. Takhta raja Uzia= takhta manusia di dunia.

  2. Takhta TUHAN di sorga.


Manusia daging tanpa Roh Kudus--pandangan daging--, hanya bisa melihat takhta manusia di bumi.tetapi manusia rohani--yang dikuasai Roh Kudus--bisa melihat takhta TUHAN di sorga.

AD.1 TAKHTA RAJA UZIA = TAKHTA MANUSIA
2 Tawarikh 26 : 16-17


Takhta manusia--takhta raja Uzia--adalah ketinggian hati/kesombongan, sama dengan keras hati--'hatiku adalah rajaku'.

Praktik keras hati:

  1. 2 Tawarikh 26 : 16-19

    Praktik yang pertama: setelah diberkati, menjadi sombong; mengangkat diri lebih tinggi dari orang lain, sehingga salah dalam tahbisan.
    Yaitu:

    • melayani tidak sesuai dengan jabatan pelayanan dari TUHAN. Bukan jabatan gembala, tetapi memaksakan diri menjadi gembala sehingga tidak bisa memberi makan sidang jemaat. Ini yang sering terjadi.

    • Melayani tetapi tidak sesuai dengan ketentuan firman pengajaran benar. Salah satunya adalah ajaran Izebel.

      Wahyu 2 : 20

      Dalam jemaat Tiatira ada ajaran Izebel, yaitu wanita diperbolehkan mengajar dan memerintah laki-laki. Berarti wanita menempatkan diri sebagai kepala dari laki-laki, sehingga TUHAN Yesus tidak menjadi kepala bagi sidang jemaat dan rumah tangga.
      Susunan yang benar adalah Yesus sebagai kepala dari laki-laki, dan laki-laki menjadi kepala dari wanita.
      Kalau bukan Yesus yang menjadi kepala, berarti ular yang menjadi kepala.

      1 Timotius 2 : 11-14

      Dikaitkan denga kejatuhan Hawa: 'semua buah pohon dalam taman ini, boleh kau makan buahnya dengan bebas kecuali satu.' Sekarang satu buah terlarang ini yang banyak ditawarkan. Emansipasi yaitu wanita menuntut persamaan hak dengan laki-laki. Padahal, TUHAN sudah menciptakan semuanya sepadan--laki-laki sebagai kepala, wanita sebagai tulang rusuk; sama-sama penting. Emansipasi saja sudah salah, apalagi mau menjadi kepala. Ini benar-benar kekerasan hati/kesombongan.


    2 Tawarikh 26 :17-18

    Jadi, kita harus tegas dalam tahbisan yang benar dan ajaran yang benar! Kita jangan ragu, sebab ini yang kita pertanggung jawabkan saat kedatangan TUHAN yang kedua kali.

    Markus 6 : 30

    'semua yang mereka kerjakan' =tahbisan.

    'dan ajarkan' = pengajaran.

    Kisah Rasul 1 : 1-2

    Mulai dari perjanjian lama sampai perjanjian baru, semua harus tegas. Kita harus tegas dalam tahbisan benar dan ajaran benar, sampai kita terangkat saat kedatangan Yesus yang kedua kali. Kalau tidak benar, tidak bisa. Bukan sok benar atau kebenaran sendiri; terserah. Yang penting sesuai dengan Alkitab, supaya kita terangkat saat Yesus datang kedua kali.
    Yesus sudah terangkat ke sorga karena mempertahankan tahbisan dan ajaran yang benar, begitu juga dengan kita.




  1. 2 Tawarikh 26 : 19

    Praktik yang kedua: marah terhadap pemberitaan firman pengajaran benar, yang menunjuk dosa-dosa--menusuk hati.
    Kalau firman sedang menunjuk dosa, berarti hati kita ditusuk oleh pedang firman. Seharusnya hati terharu, yaitu menyadari dosa dan mengaku dosa. Tetapi Raja Uzia marah = menolak pedang firman pengajaran benar. Sama seperti Herodes yang ditegor soal nikah. Seandainya saat ditegor, dia mengaku, raja Uzia masih bisa tertolong.
    Hati-hati! Dua hal ini banyak yang tidak bisa terima, yaitu soal tahbisan dan soal nikah.




  2. Praktik ketiga: terkena kusta, artinya:

    • Putih tetapi kusta = kebenaran diri sendiri, kebenaran di luar firman Allah.
      Celakanya, sekarang lebih banyak yang mendukung yang di luar firman, karena ada alasan daging yang dibuat-buat. Akibatnya menimbulkan perdebatan-perdebatan. Justru yang benar disalahkan.




    • Menutupi dosa dengan cara menyalahkan orang lain, menyalahkan TUHAN dan menyalahkan pengajaran yang benar.




    • Kenajisan.
      Dalam kitab Imamat, orang yang sakit kusta harus mengenakan kain compang-camping dan berteriak: 'najis, najis!'

      Kenajisan yaitu:

      • Dosa makan minum: merokok, mabuk, narkoba.

      • Dosa kawin mengawinkan: dosa seks dengan berbagai ragamnya, sampai nikah yang salah.


Inilah takhta manusia, yaitu kekerasan hati. Hati-hati! Saat diberkati, manusia bisa keras hati, tetapi saat dalam penderitaan, juga bisa keras hati. Tadi, disebutkan 'dalam tahun matinya raja Uzia', artinya takhta manusia membawa kita pada kematian rohani--kering rohani--sampai kematian kedua di neraka selamanya.

Setelah raja Uzia mati, takhta TUHAN baru terlihat. Artinya takhta manusia harus dihancurkan--bagaikan raja Uzia mati--baru bisa melihat dan merasakan takhta TUHAN/takhta sorga. Tidak bisa dua-duanya, harus pilih salah satu! Pilih takhta sorga atau takhta manusia. Tidak bisa netral/di tengah-tengah. Kalau mau memilih takhta sorga, takhta manusia harus dihancurkan.

Takhta manusia adalah kekerasan hati. Jadi, kekerasan hati--hati yang dikuasai daging dengan segala keinginan dan hawa nafsunya--harus dihancurkan, sehingga menjadi hancur hati--hati yang dikuasai Roh Kudus. Itulah takhta TUHAN.
Biarlah malam ini jangan keras hati, tetapi hancur hati.

Pengertian hancur hati:

  1. Mazmur 119 : 20, 22

    Pengertian yang pertama: Roh Kudus menolong kita untuk bisa merindu--menghargai firman Allah.
    Sehingga kita bisa mendengar firman dengan sungguh-sungguh, mengerti, percaya/yakin pada firman Allah--menjadi iman--, sampai mempraktikkan--melakukan--firman Allah. Kalau keras hati, saat firman datang malah marah.

    'gulingkanlah dari atasku cela dan penghinaan' = kita mengalami penyucian dari cacat-cela/dosa-dosa, sampai satu waktu kita tidak bercacat-cela. Berarti menjadi sempurna seperti Yesus.




  2. Lukas 20 : 17-18

    'batu indah yang dibuang oleh tukang bangunan' = Yesus yang disalibkan.
    Seringkali kita salah pilih, batu yang indah dibuang, batu yang jelek dipakai. Tergantung hati kita. Kalau keras hati seperti Yudas, pasti memilih yang tidak baik.

    'barangsiapa jatuh ke atas batu itu, ia akan hancur' = hancur hati.
    'barangsiapa ditimpa oleh batu itu, ia akan remuk' = keras hati.

    Pengertian yang kedua: 'jatuh ke atas batu' = Roh Kudus menolong kita untuk bisa menghargai kurban Kristus.
    Praktiknya:

    • Kita harus ada ketegasan untuk mengalami kelepasan dari dosa-dosa, sampai puncaknya dosa--dosa makan minum dan dosa kawin mengawinkan.

      Prosesnya:

      • Iman/percaya kepada Yesus sebagai satu-satunya Juru Selamat, lewat mendengar firman Kristus--firman yang diurapi Roh Kudus.
        Sekarang banyak diajarkan iman dari melihat. Memang bisa terjadi, tetapi sebenarnya doa kita diserobot oleh setan--setan yang memberi. Akibatnya kita hancur.

      • Bertobat: berhenti berbuat dosa, kembali kepada TUHAN--mati terhadap dosa.

      • Baptisan air.
        Roma 6 :4


        Kolose 2 : 11-12

        Dulu penyucian adalah sunat yang jasmani--menanggalkan kulit khatan--, sekarang sunat yang rohani yaitu menanggalkan dosa-dosa lewat dikubur dalam baptisan air.

        Baptisan air yang benar adalah orang yang sudah mati terhadap dosa harus dikuburkan dalam air bersama Yesus, kemudian bangkit dari dalam air bersama Yesus untuk mendapatkan hidup baru.
        Kalau belum dikuburkan bersama Yesus, berarti belum dibaptis--baptisannya tidak benar.




      • Baptisan Roh Kudus.


      Baptisan air dan baptisan Roh Kudus, sama-sama menghasilkan hidup baru yaitu hidup dalam kebenaran. Kalau keras hati--takhta manusia--, malah mempertahankan dosa, enjoy dalam dosa sampai puncaknya dosa; sama dengan menghina kurban Kristus. Akibatnya remuk ditimpa oleh batu.
      Kalau belum dihukum, masih panjang sabarnya TUHAN yaitu lewat pemberitaan firman, masih ada doa penyahutan dari seorang gembala. Tetapi perpanjangan sabar TUHAN ada batasnya, kalau sudah batasnya maka harus hancur dan remuk--binasa selamanya.

    • asdf

    • asdf




  3. Roma 8 : 26

    Pengertian yang ketiga: Roh Kudus menolong kita untuk bisa berdoa dan menyembah TUHAN dengan keluhan-keluhan yang tak terucapkan = hancur hati, penyerahan sepenuh sampai bisa berbahasa Roh.

    Yesaya 57 : 15-16

    TUHAN bersemayam di takhta-Nya yang tinggi, tetapi juga bersemayam pada orang-orang yang hancur hati.
    Hancur hati artinya merasa tidak layak, tidak mampu, tidak berdaya apa-apa, hanya bergantung pada belas kasih TUHAN. Ini yang menarik hadirat TUHAN datang pada kita, sehingga kita menjadi takhta TUHAN--takhta TUHAN di bumi.

    Hasilnya:

    • Yang pertama: TUHAN memberi kekuatan ekstra sehingga kita tidak kecewa, tidak putus asa, tidak tinggalkan TUHAN, tetapi tetap setia berkobar-kobar dalam ibadah pelayanan kepada TUHAN sampai garis akhir, dan tetap percaya dan berharap TUHAN.

      Hati-hati! Kalau sudah tidak semangat lagi dalam ibadah pelayanan, berarti sudah beralih kepada takhta manusia bahkan takhta setan.




    • Yesaya 57 : 18

      Yang kedua: memberi penghiburan= memberikan kebahagiaan sorga, sampai berbahagia sekalipun dalam penderitaan.
      Saat-saat kita tidak punya uang, saat berpuasa, tetapi bisa berdoa menyembah TUHAN, kita bisa berbahagia.




    • Yang ketiga: 'Aku akan menyembuhkan' = TUHAN sanggup menyelesaikan segala masalah, sampai yang mustahil.




    • Yesaya 57 : 19

      Yang keempat: memberikan damai sejahtera, artinya kita tidak merasakan lagi apa yang daging rasakan--kepahitan, kenajisan, kekuatiran, letih lesu, beban berat--, tetapi hanya merasakan mengasihi TUHAN lebih dari semua; sehingga semua menjadi enak dan ringan.




    • Yang kelima: menyatukan Israel dengan kafir menjadi satu tubuh Kristus yang sempurna, mempelai wanita sorga.




    • Yesaya 57 : 18

      Wahyu 7 : 17

      Yang keenam: sesudah menjadi mempelai wanita sorga, kita dituntun menuju takhta Yerusalem baru. Tidak ada lagi setetespun air mata, kita berbahagia bersama TUHAN.


Jangan menjadi takhta manusia atau takhta setan--keras hati. Tetapi biarlah kita hancur hati, menjadi takhta TUHAN.

TUHAN memberkati.