Ibadah Pendalaman Alkitab Surabaya, 01 September 2014 (Senin Sore)
[reload halaman ini - auto reload 5 menit]

Salam sejahtera dalam kasih sayangnya Tuhan kita Yesus Kristus. Selamat malam, selamat mendengarkan Firman Tuhan. Biarlah damai sejahtera, kasih karunia dan bahagia dari Tuhan senantiasa dilimpahkan di tengah-tengah kita sekalian.

Kita masih berada dalam kitab Wahyu 2-3.
Dalam susunan Tabernakel, ini menunjuk tentang tujuh kali percikkan darah di depan Tabut Perjanjian.
Ini sama dengan tujuh surat yang ditujukan kepada tujuh sidang jemaat bangsa kafir = penyucian terakhir yang dilakukan oleh Tuhan kepada tujuh sidang jemaat bangsa kafir (tujuh sidang jemaat di akhir zaman) supaya sidang jemaat bangsa kafir menjadi sempurna, tidak bercacat cela seperti Yesus, menjadi Mempelai Wanita surga yang siap menyambut kedatangan Yesus kedua kali.

Ada tujuh sidang jemaat yang mengalami percikkan darah. Yang pertama adalah sidang jemaat EFESUS (Wahyu 2: 1-7) (mulai diterangkan dari Ibadah Raya Surabaya, 27 Juli 2014).

Wahyu 2: 4-5, 7
2:4. Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.
2:5. Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat.

2:7. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat: Barangsiapa menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah."

Penyucian terakhir dari jemaat Efesus adalah jemaat Efesus telah KEHILANGAN KASIH MULA-MULA dan Tuhan menghendaki supaya jemaat Efesus kembali pada kasih mula-mula.
Jika tidak mau disucikan / tidak mau kembali pada kasih mula-mula, maka kaki dian akan diambil dari tempatnya, artinya hidup dalam kegelapan dosa dan dalam kutukan dosa, sampai kebinasaan selamanya.
Tetapi jika sidang jemaat Efesus / kita semua menerima penyucian terakhir (percikkan darah), maka sidang jemaat Efesus / kita semua akan kembali ke Taman Firdaus. Ini janji Tuhan kepada kita.

Jadi tujuan Tuhan melakukan percikkan darah terhadap sidang jemaat di akhir zaman adalah supaya kita bisa kembali ke Taman Eden / Taman Firdaus.

Mengapa Tuhan mau mengembalikan sidang jemaat Efesus / kita semua ke Taman Eden ? :
Kejadian 2 : 25

Pada mulanya Tuhan menciptakan manusia adalah sama mulia dengan Tuhan = memiliki pakaian kemuliaan, dan ditempatkan di Taman Eden sehingga walaupun telanjang tetapi tidak malu. Tetapi sayang, dalam Kejadian 3 : 7,10 manusia jatuh ke dalam dosa.

Kejadian 3 : 7,10

Akibat dosa, maka Adam dan Hawa kehilangan pakaian kemuliaan = telanjang dan takut / malu, dan diusir dari Taman Firdaus ke dalam dunia yang penuh dengan kutukan (duri-duri, susah payah, air mata, dan lain-lain).

Roma 3 : 23

Sejak Adam dan Hawa berbuat dosa,maka semua manusia di dunia sudah berbuat dosa bahkan sampai puncaknya dosa, yaitu :

  • dosa makan minum : merokok, mabuk, judi, narkoba.

  • dosa kawin-mengawinkan : dosa seks dengan berbagai ragamnya sampai nikah yang salah.

Sehingga manusia seperti anjing dan babi= telanjang dan tidak tahu malu. Sehingga manusia tidak bisa kembali ke Firdaus, hidup dalam kutukan dosa (susah payah, air mata, kepedihan, letih lesu, beban berat) bahkan menuju kebinasaan selama-lamanya.

Tuhan tidak rela manusia jika yang diciptakan-Nya telanjang, terkutuk dan menuju kebinasaan selamanya. Oleh sebab itu Tuhan merindu dan mengusahakan untuk mengembalikan kita ke Taman Eden / Taman Firdaus, berbahagia bersama Dia. Ini merupakan kasih, kemurahan dan kebaikan Tuhan terutama bagi kita sidang jemaat bangsa kafir.

Bagaimana caranya ? :
Dari pihak Tuhan : Tuhan mengupayakan untuk mengembalikan pakaian kemuliaan kepada manusia berdosa yang telanjang / sidang jemaat bangsa kafir yang telanjang.

Kejadian 3 : 21

Tuhan menutupi ketelanjangan manusia / sidang jemaat bangsa kafir lewat korban pendamaian.

Ada tiga tingkatan korban pendamaian :

  1. Di Taman Eden.
    Tuhan membuat pakaian dari kulit binatang, dengan cara menyembelih binatang. Tetapi binatangnya belum jelas / samar-samar dan berlaku hanya untuk dua orang = nikah.
    Dari sini kita mengambil pelajaran, bahwa nikah harus diperdamaikan.

    Dengan pakaian dari kulit binatang di Taman Eden, maka Adam dan Hawa masih diusir ke dalam dari Taman Eden = belum cukup.

  2. Di zaman Taurat.
    Korban binatang sudah jelas yaitu :

    1. Lembu : untuk kalangan atas.

    2. Kambing - domba : untuk kalangan menengah.

    3. Burung tekukur : untuk kalangan yang miskin.

    Tetapi hanya berlaku untuk satu bangsa, yaitu bangsa Israel, umat pilihan Tuhan. Bangsa kafir belum mendapat bagian di dalamnya. Oleh sebab itu ada tingkat yang ketiga.

  3. Zaman akhir / zaman gereja.

    Yohanes 19 : 23-24

    Di akhir zaman, segala korban binatang sudah digenapkan oleh kurban Kristus di kayu salib. Jadi, Yesus sebagai Anak Domba Allah harus disembelih / mati di kayu salib dan dikuliti = ditelanjangi sehingga pakaian-Nya bisa untuk menutupi ketelanjangan gereja Tuhan di akhir zaman (bangsa kafir).
    Jadi, hanya lewat kurban Kristus (=kasih mula-mula), merupakan satu-satunya jalan untuk kembali ke Firdaus.

    Dari kayu salib, Yesus memberikan pakaian-Nya kepada kita untuk menutupi ketelanjangan bangsa kafir. Ada tiga macam pakaian Yesus yang diberikan kepada kita :

    1. Yohanes 19 : 23

      Yang pertama : pakaian Yesus yang dibagi menjadi empat bagian = pakaian keselamatan / pakaian kebenaran, untuk manusia di ke empat penjuru bumi. Tidak peduli bangsa apa, tinggal mau atau tidak.

      Kita bisa menerima pakaian keselamatan lewat menerima injil keselamatan (Kabar Baik).

      Efesus 1 : 13

      Yaitu injil yang memberitakan tentang kedatangan Yesus pertama kali ke dunia, mati di kayu salib untuk menyelamatkan manusia berdosa, untuk menutupi ketelanjangan manusia berdosa.

      Bukti menerima pakaian keselamatan / pakaian kebenaran (= empat dasar kekristenan) :

      • iman / percaya kepada Yesus sebagai satu-satunya Juru Selamat, lewat mendengar Firman Kristus (firman yang diurapi Roh Kudus).
        Saat-saat mendengar Firman adalah saat-saat yang menentukan apakah dasar kekristenan kita kuat atau tidak. Urapan Roh Kudus membuat kita bisa mendengar firman dengan sungguh-sungguh sampai mengerti Firman dan percaya / yakin pada firman = dasar yang kuat.

      • Bertobat = berhenti berbuat dosa dan kembali pada Tuhan (mati terhadap dosa).
        1 Petrus 2 : 1

        Bertobat dimulai dengan membuang lima dosa, yaitu membuang kejahatan sampai membuang dusta (tipu muslihat). Selama kita masih berdusta, maka masih belum bertobat.

      • Baptisan air dan baptisan Roh Kudus.
        Yaitu lahir baru dari air dan Roh, sehingga kita menjadi seperti bayi yang baru lahir (=bayi yang rohani), yaitu :

        • hidup dalam kebenaran.

          1 Petrus 2 : 2




        • selalu merindu air susu yang murni dan yang rohani = hanya rindu Firman penggembalaan yang benar.
          Ini sama dengan memiliki perasaan yang benar. Sehingga bisa tergembala dengan benar dan baik.

        Kalau kita lahir baru dari air dan Roh, hidup benar, tergembala dengan baik dan benar, maka kita menjadi seperti bayi yang baru lahir, yaitu telanjang dan tidak malu, sebab ada pakaian keselamatan. Kita dibenarkan dan diselamatkan.

        Hasilnya :
        Mazmur 5 : 13

        Kita dipagari dengan berkat dan anugerah Tuhan = kita dipisahkan dari suasana dunia = kembali ke suasana Firdaus.
        Di dalam nikah, kita dipagari sehingga suasana kutukan tidak bisa masuk. Dalam pekerjaan kita juga, kita dipagari sehingga pekerjaan kita bersuasana Firdaus, begitu juga dalam studi dan lain-lain.

    2. Lukas 19 : 23-24

      Yang kedua : jubah yang diundi.
      Artinya tidak semua orang mendapatkan, tetapi hanya orang yang mendapatkan kemurahan Tuhan = orang pilihan yang bisa mendapat jubah Yesus.

      Hati-hati! Banyak yang dipanggil, sedikit yang dipilih.

      Ada dua pengertian jubah Yesus yang diundi :

      • Wahyu 19 : 11,13,16

        Arti pertama : jubah = Firman Allah yang ditulisi nama Mempelai Pria Surga = Kabar Mempelai (=firman pengajaran) = firman yang lebih tajam dari pedang bermata dua.

        2 Korintus 4 : 3-4

        Kabar Mempelai= cahaya injil tentang kemuliaan Kristus yang adalah wujud Allah, yaitu injil yang memberitakan tentang kedatangan Yesus kedua kali di awanawan yang permai, dalam kemuliaan sebagai Raja segala raja dan Mempelai Pria Surga untuk menyucikan sidang jemaat bangsa kafir (orang-orang yang sudah selamat) sampai menjadi sempurna seperti Yesus, menjadi Mempelai Wanita Tuhan.

        Lukas 23 : 39

        Kalau hanya mengenal Yesus sebagai Juru Selamat, Penolong, dan lain-lain, maka kita bisa menghujat Yesus saat menghadapi pencobaan. Jadi, pengenalan kita kepada Yesus harus ditingkatkan, yaitu sampai mengenal Yesus sebagai Mempelai Pria Surga lewat Kabar Mempelai.
        Sebab Kabar Mempelai yang dapat memberi kekuatan ekstra kepada kita saat menghadapi pencobaan dan masalah, sehingga kita tidak menghujat Tuhan tetapi tetap mengucap syukur kepada Tuhan.
        Satu waktu pencobaan akan meningkat, sampai masuk Getsemani = masa pra aniaya antikris, maka akan banyak yang gugur.
        Kita yang menerima Kabar Mempelai akan semakin disucikan dan dikuatkan, sehingga kita tidak putus asa, tidak kecewa, tidak menghujat Tuhan tetapi selalu mengucap syukur kepada Tuhan.

        Kalau kita sudah disucikan, maka kita akan menerima yang kedua, yaitu jabatan pelayanan

      • Arti kedua : jubah = jabatan pelayanan dan karunia-karunia Roh Kudus, yang dipercayakan oleh Tuhan kepada orang yang SUCI.

        Efesus 4 : 11-12

        Ini keadilan Tuhan.

        Contoh : Yusuf.
        Jadi jabatan pelayanan dan karunia Roh Kudus = jubah Yusuf yang maha indah.

        Kejadian 37 : 2

        Dimana kita disucikan ? : Di dalam kandang penggembalaan (Ruangan Suci) = jaminan untuk hidup suci.
        Di dalam Ruangan Suci ada tiga macam alat = ketekunan dalam tiga macam ibadah pokok.

        Yesus saat berusia 12 tahun berada di Bait Allah.
        Yusuf saat berusia 17 tahun sudah biasa menggembalakan kambing domba.
        Jadi, usia 12-17 tahun adalah usia yang efektif untuk digembalakan. Sebab usia ini merupakan masa pancaroba, dimana daging sedang kuat-kuatnya.

        Di dalam kandang penggembalaan kita mengalami penyucian secara intensif, sampai penyucian mulut. Yusuf tahu bahwa kakak-kakanya benci kepadanya tetapi Yusuf menceritakan segala kejahatan kakak-kakaknya kepada ayahnya.
        Jadi, dalam penggembalaan kita mengalami penyucian mulut artinya :

        • mulut berkata yang benar = jujur.

        • Berani bersaksi tentang pengajaran yang benar.

        • Sampai satu waktu mulut tidak salah dalam perkataan = sempurna seperti Yesus (Yakobus 3 : 2).

        Maka kita akan dipercaya jabatan pelayanan dan karunia Roh Kudus.
        'jubah tidak berjahit, tetapi satu tenunan saja' = kita dipakai dalam pelayanan pembangunan Tubuh Kristus / kesatuan Tubuh Kristus yang sempurna.
        'jubah tidak berjahit' = tidak ada campur tangan manusia, tetapi murni dari Tuhan.

        Kejadian 37 : 2-3

        Jubah pelayanan = jubah Yusuf yang maha indah.

        Setiap jabatan pelayanan bukan membuat hidup kita menjadi susah, tetapi menjadikan hidup kita indah pada waktunya, memberi masa depan yang berhasil dan indah pada waktunya.

    3. Wahyu 19 : 6-8

      Yang ketiga : pakaian kemuliaan = pakaian mempelai (pakaian putih berkilau-kilauan).

      Darimana mendapatkan jubah putih berkilau-kilauan ? : Lewat dicelup dalam darah.

      Wahyu 7 : 13-14

      Pakaian yang dicuci / dicelup dalam darah = percikkan darah = sengsara daging bersama Yesus / sengsara daging tanpa dosa.

      Bentuknya :

      • doa puasa

      • doa semalam suntuk

      • difitnah, digosipkan yang tidak baik, tidak salah tetapi disalahkan

      • sengsara karena melayani Tuhan

      Saat jubah dicelup dalam darah / mengalami percikkan darah, maka kita sedang dikhususkan oleh Tuhan dan kita sedang mendapat kasih karunia Tuhan yang besar, tak terbatas, lebih dari apapun di dunia.

      1 Petrus 2 : 19

      Sengsara daging tanpa dosa / percikkan darah, digambarkan seperti wanita hamil yang hendak melahirkan. Wanita hamil penderitaannya makin hari makin bertambah, sampai sembilan bulan sepuluh hari, saatnya melahirkan = saat paling tidak berdaya.

      Tetapi hati-hati ! Saat-saat menjelang mau melahirkan (sengsara yang meningkat sampai puncak penderitaan), ada dua kemungkinan, yaitu :

      • mencela / menghujat Tuhan = akan terhilang dan telanjang selamanya.

      • Menyembah Tuhan = mengerang dan mengeluh kepada Tuhan, untuk :

        • Pembebasan tubuh = mau mengalami pembaharuan dari manusia daging menjadi manusia rohani seperti Yesus.

          Roma 8 : 22-23

          Ibu yang mau melahirkan, harus kuat dan teguh hati dan taat dengar-dengaran. Ini merupakan mujizat terbesar.

        • Menghadapi naga = pencobaan-pencobaan yang berat / mustahil sampai antikris.
          Maka Tuhan akan menolong untuk menyelesaikan masalah kita.

          Wahyu 12 :1-3

          Kuasa Tuhan akan melindungi dan memelihara kita, sampai saat antikris berkuasa, kita diterbangkan ke padang belantara untuk dilindungi dan dipelihara selama 3,5 tahun.

          Sesudah itu, saat Yesus datang kedua kali di awan-awan permai, kita akan diubahkan menjadi sama mulia dengan Yesus. Kita akan terangkat ke awan-awan permai untuk masuk dalam Pesta Nikah Anak Domba sampai masuk Firdaus yang akan datang dan Yerusalem Baru selama-lamanya.

        Contoh kehidupan yang mengeluh dan mengerang kepada Tuhan adalah penjahat yang disalib di sebelah Yesus. Ini adalah kehidupan yang menderita karena kesalah sendiri. Tetapi kalau mau menyembah Tuhan, maka akan dipindahkan dari suasana kutukan dan kegagalan menjadi suasana Firdaus.




        Tuhan memberkati.