| IBADAH: Ibadah Doa Surabaya, 08 September 2010 (Rabu Sore) [reload halaman ini - auto reload 5 menit] |
| Disertai dengan puasa Matius 25: 16-30= sikap terhadap talenta/jabatan dan karunia Roh Kudus. SIKAP TERHADAP TALENTA Sikap ini ada yang positif (diwakili hamba yang menrerima 5 dan 2 talenta) dan negatif (diwakili hamba yang menerima 1 talenta). Matius 25: 18, 24-26 25:18. Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lobang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya. 25:24. Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam. 25:25. Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan! 25:26. Maka jawab tuannya itu: Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam? Sikap negatif disini adalah: JAHAT DAN MALAS. Hati-hati! Bagi kita yang sudah melayani, jangan sampai seperti yang memiliki 1 talenta ini, karena akibatnya hanya akan dicampakan di dalam kegelapan yang paling gelap sampai hukuman kekal selama-lamanya. Matius 18: 28, 32 18:28. Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! 18:32. Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. Pratik dari hamba yang jahat dan malas adalah MENCEKIK LEHER temannya, artinya:
Jangan sampai kita mengalami kekeringan rohani. Kalau kita merasa kering rohani, kita harus cepat memeriksa diri. Yang benar adalah menghakimi diri sendiri dibawah Kaki Tuhan (sudah dijelaskan pada ibadah Senin, 06 September 2010). Lukas 7: 36-38 7:36. Seorang Farisi mengundang Yesus untuk datang makan di rumahnya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan. 7:37. Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ketika perempuan itu mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi. 7:38. Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu. = sikap menghakimi diri sendiri, yaitu berada di bawah Kaki Yesus. 'menangis'= menghakimi diri sendiri, menyadari dosa, menyesali dosa dan mengakui dosa-dosa. Dan sesudah diampuni, jangan berbuat dosa lagi. Kalau kita merasa dosa kita banyak, maka tempat yang tepat adalah di bawah Kaki Tuhan. Kalau kita menghakimi diri sendiri, kita tidak akan kering, tapi kita akan mengalami minyak urapan Roh Kudus (kasih Allah yang besar), sehingga harum baunya. Ini adalah penyembahan yang berkenan pada Tuhan= asap dupa yang harum yang naik ke hadirat Tuhan. Jadi, minyak narwastu yang harum baunya, itu senilai dengan asap dupa yang harum baunya. Kalau ada penyembahan yang benar, maka leher kita tidak dicekik, tapi justru dipuji oleh Tuhan. Kidung Agung 7: 4 7:4. Lehermu bagaikan menara gading, matamu bagaikan telaga di Hesybon, dekat pintu gerbang Batrabim; hidungmu seperti menara di gunung Libanon, yang menghadap ke kota Damsyik. 1 Raja-raja 10: 18 10:18. Juga raja membuat takhta besar dari gading, yang disalutnya dengan emas tua. Menara gading= tahta raja dari gading yang disalut dengan emas. Jadi, penyembahan yang berkenan yang pada Tuhan akan sampai ke Tahta Raja. Artinya, kita menyembah Yesus sebagai Imam Besar, Raja segala raja dan Mempelai Pria Surga yang ada di tahta Surga. Kalau kita menangis, yang benar adalah menangis karena dosanya, bukan karena hukumannya. Hasil kalau kita menyembah Dia sebagai Raja:
|