Ibadah Raya Surabaya, 16 September 2018 (Minggu Siang)

Salam sejahtera dalam kasih sayangnya TUHAN kita Yesus Kristus. Selamat siang, selamat mendengarkan firman TUHAN. Biarlah damai sejahtera, kasih karunia, dan bahagia senantiasa dilimpahkan TUHAN di tengah-tengah kita sekalian.

Wahyu 8: 1-5
8:1. Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang ketujuh, maka sunyi senyaplah di sorga, kira-kira setengah jam lamanya.
8:2. Lalu aku melihat ketujuh malaikat, yang berdiri di hadapan Allah, dan kepada mereka diberikan tujuh sangkakala.
8:3. Maka datanglah seorang malaikat lain, dan ia pergi berdiri dekat mezbah dengan sebuah pedupaan emas. Dan kepadanya diberikan banyak kemenyan untuk dipersembahkannya bersama-sama dengan doa semua orang kudus di atas mezbah emas di hadapan takhta itu.
8:4. Maka naiklah asap kemenyan bersama-sama dengan doa orang-orang kudus itu dari tangan malaikat itu ke hadapan Allah.
8:5. Lalu malaikat itu mengambil pedupaan itu, mengisinya dengan api dari mezbah, dan melemparkannya ke bumi. Maka meledaklah bunyi guruh, disertai halilintar dan gempa bumi.

Ini adalah METERAI KETUJUH.
Ada dua keadaan yang kontras terjadi:




  1. Keadaan di sorga, yaitu sunyi senyap selama setengah jam. Ini menunjuk pada ketenangan; perhentian yang semakin meningkat sampai puncaknya yaitu ketenangan selama setengah jam di sorga.




  2. Ayat 5= keadaan di bumi yaitu kegoncangan-kegoncangan yang semakin bertambah sampai kehancuran dan kebinasaan di bumi.


Biarlah hari-hari ini kita banyak berdoa menyembah Tuhan--tidak bertengkar atau bergosip--, sampai kita mengalami perhentian/ketenangan/Sabat--supaya di bumi seperti di sorga.
Bertengkar dan bergosip merupakan suasana di bumi, dan nanti benar-benar terjadi kegoncangan di bumi sampai binasa.

Ada tiga macam Sabat:




  1. Sabat kecil.
    Matius 11: 28-30
    11:28. Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.
    11:29. Pikullah kuk yang Kupasang dan
    belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.
    11:30. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan."

    'ketenangan'= perhentian/Sabat.
    Mengalami Sabat kecil sama dengan mengalami kepenuhan atau urapan Roh Kudus.

    Ayat 28: 'letih lesu dan berbeban berat'= sejak Adam dan Hawa berbuat dosa, maka semua manusia sudah berbuat dosa, dan dosa membuat manusia menjadi letih lesu, berbeban berat, air mata, dan pahit getir. Kalau dibiarkan, sampai kebinasaan di neraka.

    Inilah dosa, di dunia sudah membuat susah, sampai di akhirat juga membuat susah. Kalau beban lain misalnya tidak makan, kemudian meninggal, sudah selesai, tidak ada lapar lagi.
    Jadi dosa merupakan beban terberat manusia di bumi, yang membebani manusia di dunia sampai di neraka selamanya.

    Lalu bagaimana caranya orang berdosa mendapatkan ketenangan/Sabat? Manusia berdosa harus belajar kepada Yesus di kayu salib--'belajarlah pada-Ku'--, yaitu:

    Kalua kita rendah hati dan lemah lembut--saling mengaku dan mengampuni--, darah Yesus akan membasuh dosa-dosa kita; menghapus segala dosa kita sehingga kita bisa hidup dalam kebenaran, dan saat itulah kita mengalami Sabat.

    Yesaya 32: 17
    32:17. Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya.

    Hidup benar sama dengan mengalami urapan Roh Kudus. Tinggal pilih! Kalau mempertahankan dosa, kita akan kering; tidak ada urapan Roh Kudus. Tidak benar sedikit saja sudah kering--mungkin soal perkataan. Kita mau berdusta, akhirnya kering.

    "Pengalaman saya dulu saat masih bersekolah, bergurau dengan teman, akhirnya kelewatan: ada dusta dan lain-lain, dan langsung kering. Orang dalam urapan Roh Kudus bisa langsung merasakannya. Saya langsung masuk kamar mandi, berdoa minta ampun pada Tuhan. Kalau sudah minta ampun dan hidup benar, Roh Kudus akan menguasai kita, sehingga kita mengalami damai sejahtera."

    Inilah perhentian dalam Roh Kudus--Sabat kecil.
    Matius 11: 30
    11:30. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan."

    Kalau sudah hidup benar, diurapi Roh Kudus, mengalami damai sejahtera--perhentian dalam Roh Kudus/Sabat kecil--, hasilnya: semua aspek di dalam hidup kita menjadi enak dan ringan. Pelayanan jadi enak dan ringan, tidak akan mau berhenti melayani. Nikah, pekerjaan, studi enak dan ringan--semua dilakukan dengan damai sejahtera, dan semua kutukan sudah ditanggung oleh Yesus di kayu salib.
    Kalau tidak damai, semua akan menjadi berat dan tidak enak--bersuasana kutukan.

    Inilah Sabat kecil. Dulu, Sabat adalah hari ketujuh. Sekarang, menunjuk pada perhentian dalam Roh Kudus. Setiap saat, kalau kita datang dengan dosa, kemudian saling mengaku dan mengampuni, kita akan mengalami enak dan ringan. Tidak usah menunggu besok atau lusa. Datang ke kayu salib saat ini--saat firman diberitakan--, dan kita akan mengalami damai sejahtera, setiap langkah hidup kita menjadi enak dan ringan karena ada kuasa Roh Kudus di sana, bukan kemampuan daging.

    Jangan banyak bergosip! Kalau bergosip, akan mengalami kegoncangan yang semakin besar, sampai binasa.
    Kalau banyak menyembah Tuhan kita akan mengalami ketenangan yang semakin meningkat, sampai ketenangan di sorga setengah jam lamanya--menunjuk pada hubungan mempelai.




  2. Sabat besar= kerajaan Seribu Tahun Damai (Firdaus yang akan datang).
    Wahyu 20: 6
    20:6. Berbahagia dan kuduslah ia, yang mendapat bagian dalam kebangkitan pertama itu. Kematian yang kedua tidak berkuasa lagi atas mereka, tetapi mereka akan menjadi imam-imam Allah dan Kristus, dan mereka akan memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Dia, seribu tahun lamanya.

    Waktu Yesus datang kembali kita akan terangkat ke awan-awan yang permai, masuk perjamuan kawin Anak Domba, setelah itu masuk kerajaan Seribu Tahun Damai (Firdaus yang akan datang).
    Penghuni kerajaan Seribu Tahun Damai adalah imam-imam dan raja-raja--'menjadi imam-imam Allah dan Kristus, dan mereka akan memerintah sebagai raja'.
    Jadi kalau kita mau masuk kerajaan Seribu Tahun Damai kita harus menjadi imam dan raja, tidak bisa tidak.

    Imam adalah:




    Kita harus menjadi imam! Berdoa! Dengar firman, kalau sungguh-sungguh suci, pasti ada jabatan pelayanan.

    Tabiat seorang imam:




    Jadi kalau imam tidak taat dan setia, akan menghadapi:




    Kalau taat dan setia sampai daging tidak bersuara lagi--doulos; hanya melakukan kewajiban tetapi tidak menuntut hak (di kayu salib Yesus sampai menyerahkan hak untuk hidup)--, hasilnya:




    Kejar Sabat, dan kita memuliakan Tuhan.
    Inilah Sabat besar yaitu kerajaan Seribu Tahun Damai. Kita menerima hak dan upah kita untuk hidup sekarang sampai kerajaan Seribu Tahun Damai, bahkan sampai selama-lamanya.




  1. Sabat kekal= Yerusalem baru.
    Kalau sistem pengajaran--ayat menerangkan ayat--, enak, tidak asal-asalan.
    Banyak kali kita menerangkan ayat asal-asalan, sehingga berubah-ubah. Kalau ayat menerangkan ayat, tidak akan berubah sampai Tuhan datang.

    Yerusalem baru= langit yang baru dan bumi yang baru.
    Jadi, syarat untuk masuk Yerusalem baru: harus mengalami pembaharuan dari manusia daging menjadi manusia rohani seperti Yesus, mulai dari tidak ada yang lama, yaitu laut tidak ada lagi.

    Wahyu 21: 1
    21:1. Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan lautpun tidak ada lagi.

    Laut tidak ada lagi artinya:




    Bimbang dan Babel adalah satu. Kalau sudah bimbang pada pengajaran ayng benar/kuasa Tuhan, Babel akan datang, dan sebentar lagi ia akan jatuh dan menyesal seumur hidup.
    Pilh yang benar, yaitu alkitab! Kita tidak akan kecewa, dan Babel akan lair, tidak bisa mengauasai kita.

    Matius 14: 24-25, 29-31
    14:24. Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal.
    14:29. Kata Yesus: "Datanglah!" Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus.
    14:30. Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: "Tuhan, tolonglah aku!"
    14:31. Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?"

    Petrus yang hebat bisa bimbang. Karena itu hati-hati, gelombang kebimbangan dan kenajisan menghantam Petrus sampai hampir tenggelam.

    Untunglah Petrus masih bisa mengulurkan tangan, berserah dan berseru kepada Tuhan; hanya percaya berharap Tuhan, bukan lainnya; berpegang teguh pada pengajaran dan kuasa Tuhan.
    Siang ini kita juga. Tuhan akan mengangkat kita dari ketenggelaman, kejatuhan dosa jadi hidup benar dan suci, kegagalan jadi berhasil dan indah, kemeroostan dipulihkan semua bahkan ditingkatkan. Dan kita juga dituntun ke pelabuhan damai sejahtera--Yerusalem baru. Artinya: disucikan dan diubahkan sampai sempurna seperti Tuhan.

    Mazmur 107: 29-30
    107:29. dibuat-Nyalah badai itu diam, sehingga gelombang-gelombangnya tenang.
    107:30. Mereka bersukacita, sebab semuanya reda, dan dituntun-Nya mereka ke pelabuhan kesukaan mereka.

    Laut teduh, masalah selsai, dan damai--sAbat. Dan kita dituntun ke pelabuhan damai sejahtera, kita disucikan dan diubahkan sampai sempurna, untuk layak menambut kedatangan Tuhan kedua kali sampai kit amasuk Yerusalem baru.


Berserah dan berseru apapun keadaan kita, Tuhan akan menolong. Jangan bimbang, tetapi serahkan semua pada Tuhan!

Tuhan memberkati.