Ibadah Raya Surabaya, 04 Januari 2026 (Minggu Siang)
[reload halaman ini - auto reload 5 menit]

Salam sejahtera dalam Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus. Selamat mendengarkan firman Tuhan. Biarlah damai sejahtera, kasih karunia dilimpahkan Tuhan di tengah-tengah kita.

Wahyu 22: 6-21 menunjuk pada tujuh peringatan/nasihat/teguran kepada sidang jemaat akhir zaman, supaya menjadi sempurna seperti Yesus dan tampil sebagai mempelai wanita sorga yang siap untuk menyambut kedatangan Yesus kedua kali di awan-awan yang permai dan masuk Yerusalem baru selamanya--angka tujuh menunjuk pada kesempurnaan.



  1. Ayat 7= peringatan pertama: peringatan yang dikaitkan dengan kebahagiaan dalam menerima firman nubuat (diterangkan pada Ibadah Raya Surabaya, 24 November 2024 sampai Ibadah Raya Surabaya, 15 Desember 2024).



  2. Ayat 8-9= peringatan kedua: peringatan tentang penghormatan dan penyembahan (diterangkan pada Ibadah Doa Surabaya, 18 Desember 2024 sampai Ibadah Doa Surabaya, 08 Januari 2025).



  3. Ayat 10= peringatan ketiga; peringatan untuk tidak memeteraikan firman nubuat--firman pengajaran yang benar; wahyu dari Tuhan--, karena waktunya sudah singkat (diterangkan pada Ibadah Pendalaman Alkitab Malang, 09 Januari 2025 sampai Ibadah Pendalaman Alkitab Malang, 23 Januari 2025).



  4. Ayat 11-12= peringatan keempat: peringatan tentang dua macam arus di dunia: kesucian atau kenajisan. Kita harus tegas memilih (diterangkan pada Ibadah Raya Surabaya, 26 Januari 2025 sampai Ibadah Doa Surabaya, 26 Februari 2025 sampai Ibadah Doa Surabaya, 26 Februari 2025).



  5. Ayat 13-16= peringatan kelima: peringatan tentang membasuh jubah. (diterangkan pada Ibadah Pendalaman Alkitab Malang, 27 Februari 2025 sampai Ibadah Doa Surabaya, 23 April 2025)



  6. Ayat 17= peringatan keenam: peringatan tentang tugas gereja Tuhan, yaitu bersaksi dan mengundang (diterangkan pada Ibadah Pendalaman Alkitab Malang, 24 April 2025 sampai Ibadah Pendalaman Alkitab Malang, 15 Mei 2025).



  7. Wahyu 22: 18-21
    22:18. Aku bersaksi kepada setiap orang yang mendengar perkataan-perkataan nubuat dari kitab ini: "Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini.
    22:19. Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini."
    22:20. Ia yang memberi kesaksian tentang semuanya ini, berfirman: "Ya, Aku datang segera!" Amin, datanglah, Tuhan Yesus!
    22:21. Kasih karunia Tuhan Yesus menyertai kamu sekalian! Amin.

    Peringatan ketujuh: peringatan untuk siap sedia untuk menantikan dan menyambut kedatangan Tuhan Yesus kedua kali di awan-awan permai, yang dikaitkan dengan dua hal:



    1. Ayat 18-19= peringatan untuk tidak menambah dan mengurangi--merubah--firman nubuat/firman pengajaran yang benar.
      Kalau mau bertemu Yesus di awan yang permai, kembali ke alkitab (diterangkan pada Ibadah Raya Surabaya, 18 Mei 2025 sampai Ibadah Raya Surabaya, 22 Juni 2025).
      Untuk kembali ke Firdaus kita harus kembali ke alkitab. Keadaan dulu dan sekarang harus sesuai dengan firman, bukan firman yang mengikuti.



    2. Ayat 21= peringatan untuk selalu hidup dalam kasih karunia Tuhan (diterangkan pada Ibadah Raya Surabaya, 29 Juni 2025).


AD. 7B

Ayat 20= kita harus selalu siap sedia untuk menantikan dan menyambut kedatangan Tuhan kedua kali di awan-awan yang permai. Kemudian masuk perjamuan kawin Anak Domba, kerajaan Seribu Tahun Damai (Firdaus yang akan datang), dan Yerusalem baru.

Kalau ketinggalan, semua akan jadi sia-sia, bahkan binasa selamanya.
Kerja keras, sekolah keras, tetapi lebih keras lagi kita berusaha untuk bisa menyambut kedatangan Yesus kedua kali di awan-awan yang permai.

'Ya, Aku datang segera'= kesiapan Yesus untuk segera datang kembali kedua kali dalam kemuliaan sebagai Raja segala raja dan Mempelai Pria Sorga--Kepala.

'Amin, datanglah Tuhan Yesus'= kesiapan gereja Tuhan dalam kemuliaan sebagai mempelai wanita sorga--tubuh--untuk layak menyambut kedatangan Yesus kedua kali di awan-awan yang permai.

Yesus dan gereja Tuhan sudah siap, sehingga terjadi pertemuan antara Yesus, Mempelai Pria Sorga--Kepala--dengan gereja Tuhan, mempelai wanita sorga--tubuh--di awan-awan yang permai untuk masuk perjamuan kawin Anak Domba (Wahyu 19: 9), yang merupakan pintu masuk ke kerajaan Seribu Tahun Damai (Firdaus yang akan datang)--Wahyu 20--, dan Yerusalem baru selamanya (Wahyu 21-22).

Inilah tujuan akhir pengikutan dan pelayanan kita kepada Yesus.

Jaga nikah jasmani untuk bisa mencapai nikah rohani.
Nikah jasmani harus dijaga dalam kebenaran--sesuai dengan firman--, kesucian, dan kesatuan--saling mengaku dan mengampuni; saling mengasihi. Sampai nikah yang sempurna, masuk perjamuan Kawin Anak Domba.

Ayat 21= persiapan gereja Tuhan untuk menantikan dan menyambut kedatangan Tuhan kedua kali adalah menerima dalam kasih karunia Tuhan dan hidup di dalamnya.

Praktik menerima kasih karunia dan hidup di dalamnya: bekerja lebih keras daripada yang lain sekalipun tadinya paling hina dan tak berguna.

1 Korintus 15: 9-10
15:9. Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah.
15:10. Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah
bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.

Bekerja lebih keras tidak sama dengan persaingan di dalam dunia yang saling menjatuhkan--disalahkan, dijegal dan sebagainya--, tetapi di sini artinya:



  1. Beribadah melayani Tuhan dengan setia dan baik sesuai dengan jabatan dan karunia dari Tuhan.

    Matius 25: 21
    25:21. Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.

    Setia= tidak mau dihalangi sampai satu waktu tidak bisa dihalangi. Halangan yang besar dikecilkan, halangan yang kecil tidak dijadikan sebagai halangan.
    Halangan selalu ada.
    Kesetiaan ini bergantung pada kita sendiri.

    Baik= melakukan perbuatan kebajikan; tidak menyakiti dan merugikan orang lain.
    Dalam Matius 25 perbuatan kebajikan dibandingkan antara kambing dan domba--kambing egois dan domba mengasihi; 'Ketika aku lapar kamu memberi makan, ketika aku di penjara kamu mengunjungi'.

    Perbuatan kebajikan sama dengan memberi dan mengunjungi sesama yang membutuhkan--mulai keluarga dekat, keluarga jauh, teman seiman dalam penggembalaan, dan fellowship. Inilah pelayanan tubuh.
    Kalau memberi dan mengunjungi kita lakukan dengan setia dan baik, itulah bekerja lebih keras dari yang lain.

    Hasilnya:



    • Kita dipakai dalam kegerakan yang lebih besar--'tanggung jawab dalam perkara yang besar'--, yaitu pembangunan tubuh Kristus yang sempurna.
      Pembangunan tubuh Kristus dimulai dari nikah--sebagai suami, istri, anak, orang tua, kakak, adik--, penggembalaan, antar penggembalaan, sampai Israel dan kafir menjadi satu tubuh Kristus yang sempurna.

      Kalau setia dan baik, akan bisa melayani mulai dari dalam nikah.



    • 'turutlah dalam kebahagiaan tuanmu'= kita merasakan kebahagiaan sorga yang bertambah-tambah. Mulai dari nikah sudah bahagia, dalam penggembalaan lebih bahagia lagi sekalipun hidup di dunia yang terkutuk--letih lesu, beban berat.

      Di dunia memang susah, tetapi Tuhan memberikan kebahagiaan sorga kepada kita, melayani nikah bahagia, melayani penggembalaan lebih bahagia, melayani fellowship lebih bahagia lagi, sampai masuk perjamuan kawin Anak Domba--puncak kebahagiaan.



  2. Beribadah melayani dengan setia dan benar sesuai dengan jabatan dan karunia yang Tuhan percayakan.

    Lukas 17: 7-8
    17:7. "Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan!
    17:8. Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku.
    Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum.

    Ikat pinggang menunjukkan kesetiaan dan kebenaran.

    Yesaya 11: 5
    11:5. Ia tidak akan menyimpang dari kebenaran dan kesetiaan, seperti ikat pinggang tetap terikat pada pinggang.

    Perikop: Raja Damai yang akan datang.
    'Ia'= Yesus; Raja Damai.

    Setia= tidak mau sampai tidak bisa dihalangi. Gembala menjadi contoh terlebih dahulu. Jangan sampai gampang terhalang dan harus melayani.

    "Tuhan sudah membuka jalan. Mau melayani ke Medan tidak ada pesawatnya, tetapi Tuhan sudah membuka jalan lewat luar negeri. Nanti pulangnya juga lewat luar negeri lagi. Lewat Jakarta, Batam, Kuala Lumpur, tidak ada semua pesawatnya. Mendadak Tuhan buka jalan lewat Penang."

    Benar= sesuai dengan firman pengajaran yang benar. Tahbisan/pelayanan yang benar. Contoh pelayanan yang benar:



    • Wanita tidak boleh mengajar dan memerintah laki-laki di dalam ibadah. Ini yang seringkali dilanggar. Setia, tetapi tidak benar. Apalagi tidak setia dan tidak benar. Celaka!
      Kesetiaan mulai dari gembala. Kalau gembala tidak setia dan tidak benar, bagaikan tidak memakai ikat pinggang--kedodoran dalam pelayanan.

      1 Timotius 2: 11-12
      2:11. Seharusnyalah perempuan berdiam diri dan menerima ajaran dengan patuh.
      2:12. Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar dan juga tidak mengizinkannya memerintah laki-laki; hendaklah ia berdiam diri.

      Perikop: mengenai sikap laki-laki dan perempuan dalam ibadah.

      Kesetiaan dan kebenaran dimulai dari seorang gembala.

      Wanita mengajar dan memerintah laki-laki dalam ibadah adalah contoh pelayanan yang tidak sesuai dengan firman pengajaran yang benar.



    • Gembala yang bertanggung jawab memberi makan domba-domba tepat pada waktunya. Ini adalah tugas pokok gembala.

      Lukas 12: 41-42
      12:41. Kata Petrus: "Tuhan, kamikah yang Engkau maksudkan dengan perumpamaan itu atau juga semua orang?"
      12:42. Jawab Tuhan: "Jadi, siapakah
      pengurus rumah yang setia dan bijaksana yang akan diangkat oleh tuannya menjadi kepala atas semua hambanya untuk memberikan makanan kepada mereka pada waktunya?

      Pengurus rumah Tuhan= gembala.

      Apa yang gembala manusia korbankan sangat jauh dibandingkan Yesus. Yesus Gembala Agung memberi makan sampai mati di kayu salib untuk menjadi makanan dan minuman bagi kita. Dalam memberikan makan domba-domba, gembala manusia hanya berkorban waktu, tenaga, perlu berdoa, berpuasa dan lain-lain. Harus bisa!
      Dan domba harus makan firman penggembalaan.

      Pertanyaan Yesus kepada Petrus: Simon adakah engkau mengasihi Aku? Gembalakanlah domba-dombaku (beri makan domba-dombaku).

      Gembala yang tidak mau memberi makan dan domba yang tidak mau makan firman penggembalaan sama dengan egois.



    • Tidak hanya benar soal pelayanan, tetapi segala perbuatan dan perkataan kita harus benar di manapun kita berada; sesuai dengan firman pengajaran yang benar.

      Dalam keuangan, berlalu lintas, nikah harus benar.



    Lukas 17: 8
    17:8. Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum.

    Melayani Yesus dengan setia dan benar sama dengan memberi makan minum Yesus sampai selesai--sampai kenyang/puas.
    Artinya: kita memuaskan hati Tuhan dan menyenangkan hati sesama.

    Hasilnya:



    • 'engkau boleh makan dan minum' = Tuhan memuaskan hati kita, sehingga tidak perlu lagi mencari kepuasan di dunia yang menjerumuskan dalam dosa Babel--dosa makan minum dan kawin mengawinkan. Kepuasan di dunia tidak perlu lagi masuk di dalam gereja.

      Kalau kepuasan dunia masuk gereja, cepat atau lambat peristiwa Hofni dan Pinehas akan terjadi lagi dalam gereja Tuhan.

      "Saya ingat kesaksian seorang hamba Tuhan hebat di luar pulau. Dia berkata : Salam kepada pak Widjaja, doakan saya jangan saya berselingkuh seperti teman-teman saya. Ini karena kepuasan dunia masuk dalam gereja Tuhan, seperti air sungai Nil masuk dalam keranjang Musa. Tidak akan maju tetapi justru tenggelam."



    • Kita bisa selalu mengucap syukur kepada Tuhan, dan kita bisa menjadi saksi Tuhan.
      Kalau kering, akan bergosip.



    • Urusan makan minum kita adalah urusan Tuhan, dan Dia selalu berhasil.



  3. Beribadah melayani Tuhan dengan setia berkobar-kobar oleh urapan Roh Kudus.

    2 Timotius 1: 6
    1:6. Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu.

    Roma 12: 11
    12:11. Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.

    Jangan mengorbankan pelayanan! Sekarang banyak pelayan Tuhan yang pensiun, bahkan gembalanya juga pensiun.

    Daging memang lemah, tetapi ada Roh Kudus, sehingga kita bisa lebih berkobar-kobar.


Kesimpulan: pelayan Tuhan yang setia, baik, benar, dan berkobar-kobar adalah pelayan bagaikan nyala api.

Ibrani 1: 7
1:7. Dan tentang malaikat-malaikat Ia berkata: "Yang membuat malaikat-malaikat-Nya menjadi badai dan pelayan-pelayan-Nya menjadi nyala api."

Daniel 7: 9
7:9. Sementara aku terus melihat, takhta-takhta diletakkan, lalu duduklah Yang Lanjut Usianya; pakaian-Nya putih seperti salju dan rambut-Nya bersih seperti bulu domba; kursi-Nya dari nyala api dengan roda-rodanya dari api yang berkobar-kobar;

'kursi-Nya' = takhta-Nya.

Takhta Tuhan dari nyala api.

Jadi, pelayan Tuhan yang setia, baik, benar, dan berkobar-kobar sama dengan takhta Tuhan di bumi.

Kita tidak melayani dengan sembarangan, tetapi harus menampilkan takhta Tuhan di bumi, sehingga ada kemuliaan. Harus sungguh-sungguh!
Inilah bobot pelayanan kita, yaitu menampilkan takhta Tuhan di bumi.

Yesaya 57: 15
57:15. Sebab beginilah firman Yang Mahatinggi dan Yang Mahamulia, yang bersemayam untuk selamanya dan Yang Mahakudus nama-Nya: "Aku bersemayam di tempat tinggi dan di tempat kudus tetapi juga bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati, untuk menghidupkan semangat orang-orang yang rendah hati dan untuk menghidupkan hati orang-orang yang remuk.

Kita bisa menjadi takhta Tuhan di bumi, kalau kita rendah hati.
Rendah hati=



  1. Kemampuan untuk mengaku dosa-dosa kepada Tuhan dan sesama. Jika diampuni jangan berbuat dosa lagi. Berarti kita tidak boleh menghakimi orang lain yang benar dan Tuhan/firman pengajaran yang benar.
    Contohnya Rasul Paulus mengakui: 'akulah manusia paling berdosa'



  2. Menganggap orang lain lebih utama dari diri sendiri.
    Kalau menganggap diri lebih hebat, akan meremehkan orang lain.



  3. Hancur hati; mengaku kita hanya tanah liat yang tidak layak, tidak berharga apa-apa dan tidak mampu apa-apa.


Kalau menjadi pelayan Tuhan yang setia baik, setia benar, setia berkobar-kobar dan memiliki rendah hati dan hancur hati, kita akan jadi takhta Tuhan di bumi. Kita hanya bergantung pada kasih karunia Tuhan. Kita tidak akan pernah sombong, kecewa, putus asa dan menolak Tuhan.

Yesaya 6: 1
6:1. Dalam tahun matinya raja Uzia aku melihat Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubah-Nya memenuhi Bait Suci.

Kalau menjadi takhta Tuhan di bumi, Tuhan akan memberikan ujung jubah-Nya memenuhi Bait Suci--sidang jemaat.

Wahyu 19: 13, 16, 6-7
19:13. Dan Ia memakai jubah yang telah dicelup dalam darah dan nama-Nya ialah: "Firman Allah."
19:16. Dan pada
jubah-Nya dan paha-Nya tertulis suatu nama, yaitu: "Raja segala raja dan Tuan di atas segala tuan."
19:6. Lalu aku mendengar seperti suara himpunan besar orang banyak, seperti desau air bah dan seperti deru guruh yang hebat, katanya: "Haleluya! Karena Tuhan, Allah kita, Yang Mahakuasa, telah menjadi
raja.
19:7. Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia.

Ayat 13 = salah satu arti jubah adalah firman Allah.
Ayat 16 "Raja segala raja dan Tuan di atas segala tuan." = mempelai.

Jubah Yesus menunjuk pada firman Allah, yaitu kabar mempelai.

"Saya bersyukur kepada Tuhan bisa menerima kabar mempelai. Tadinya mau sekolah alkitab di luar negeri biar bagus, tetapi ayah saya tidak mengizinkan: Kalau kamu mau sekolah alkitab di Indonesia saja. Untung saya diterima di Johor. Saya dulu sulit diterima di Johor. Surat panggilan saya hilang, lalu tante Pong bilang: Tidak usah. Saya dan kakak saya mencari di kantor, di lemari, di kamar, tidak ketemu juga. Akhirnya ketemu di ruang tamu, ada di bawah tempat biskuit. Lalu om Pong bilang: kalau sekolah alkitab tidak usah tinggal di asrama. Saya sedih lagi. Kalau tidak tinggal di asrama malam-malam didatangi murid-murid bagaimana mau menjadi hamba Tuhan? Tapi akhirnya boleh di asrama. Inilah perjalanan-perjalanan saya."

Kapan ada kabar mempelai? Saat kita semua jadi takhta Tuhan, yaitu setia, baik, benar, dan berkobar-kobar, ditambah dengan rendah hati dan hancur hati.
Kabar mempelai--cahaya injil tentang kemuliaan Kristus; pengajaran mempelai dalam terang tabernakel--adalah firman Allah yang memberitakan tentang kedatangan Yesus kedua kali dalam kemuliaan sebagai Raja segala raja dan Mempelai Pria Sorga.

Menerima kabar mempelai dengan sungguh-sungguh sama dengan hidup dalam suasana takhta sorga. Ini yang kita doakan.
Dalam ibadah pelayanan, nikah rumah tangga, kehidupan pribadi akan merasakan suasana takhta sorga.

Markus 5: 25-29
5:25. Adalah di situ seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan.
5:26. Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga telah dihabiskannya semua yang ada padanya, namun sama sekali tidak ada faedahnya malah sebaliknya keadaannya makin memburuk.
5:27. Dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus, maka di tengah-tengah orang banyak itu ia mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jubah-Nya.
5:28. Sebab katanya: "
Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh."
5:29. Seketika itu juga
berhentilah pendarahannya dan ia merasa, bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya.

Siang ini, terima kabar mempelai. Jangan tunggu seperti perempuan ini yang habis-habisan lebih dulu.
Kita mendengar dan taat pada kabar mempelai.

Wanita gambaran dari gereja Tuhan.
Keadaan gereja Tuhan akhir zaman adalah seperti perempuan yang pendarahan dua belas tahun.
Artinya:



  • Hidup dalam kebusukan; kenajisan; nikah yang salah--kawin cerai, kawin campur, dan kawin mengawinkan--dan dosa makan minum--merokok, mabuk, narkoba.



  • Perpecahan--perdarahan terjadi karena ada pembuluh darah yang pecah--dalam nikah rumah tangga dan antar gereja; tidak ada damai sejahtera.
    Kalau tidak ada damai, akan ada suasana kutukan: letih lesu, beban berat, susah payah, dan air mata.



  • Penderitaan.

  • Ketakutan/stres.

  • Kemustahilan, makin buruk, bahkan binasa selamanya.


Serahkan semua kepada Tuhan! Ada ujung jubah Tuhan di tengah-tengah kita.

Wanita ini sudah banyak menempuh cara, tetapi keadaannya semakin buruk karena ia memakai cara-cara dunia; mengandalkan kekayaan, manusia dan sebagainya. Tidak akan bisa! Pasti lebih memburuk bahkan mustahil.

Mohon ampun kepada Tuhan kalau kita sudah salah cara seperti wanita ini.
Satu-satunya cara yang Tuhan bukakan bagi kita adalah merendahkan diri untuk berusaha menjamah ujung jubah, artinya mendengar dan dengar-dengaran pada kabar mempelai apapun resikonya.

Contoh: Maria taat untuk mengandung bayi Yesus, sekalipun ia belum menikah--resikonya dirajam batu dan mati.
Seringkali logika kita tidak bisa menerima. Semakin mustahil firman yang kita praktikkan, maka segala kemustahilan diselesaikan oleh Tuhan.

Proses menjamah ujung jubah:



  1. Tidak berharap pada apapun di dunia, tetapi hanya kepada Yesus.



  2. Tidak putus asa dan kecewa menghadapi tantangan dan halangan, tetapi tekun untuk berusaha mendekati Yesus; tekun untuk mendengar dan dengar-dengaran pada kabar mempelai.

    Mendengarkan firman itu mendekati Yesus. Taat dengar-dengaran bagaikan menjamah Yesus.



  3. Merendahkan diri dan hancur hati--ujung jubah itu di bawah, di tanah--; merasa tidak berdaya, tidak layak, dan tidak berharga. Kita hanya bergantung pada kasih karunia Tuhan, sehingga kita bisa menyembah Tuhan. Kita berseru dan berserah kepada Dia.


Hasilnya:



  1. Yesaya 6: 1
    6:1. Dalam tahun matinya raja Uzia aku melihat Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubah-Nya memenuhi Bait Suci.

    Yang pertama: Tuhan mengulurkan tangan kasih karunia-Nya untuk memenuhi Bait Suci.
    Artinya: Tuhan melindungi dan memelihara kita di tengah kesulitan dunia dan ketidakberdayaan kita sampai Antikris berkuasa di bumi selama tiga setengah tahun.



  2. Mazmur 62: 12-13
    62:12. Satu kali Allah berfirman, dua hal yang aku dengar: bahwa kuasa dari Allah asalnya,
    62:13. dan dari pada-Mu juga kasih setia, ya Tuhan; sebab Engkau membalas setiap orang menurut perbuatannya.

    'kasih setia' = kemurahan.

    Yang kedua: kita mengalami uluran tangan kasih karunia dan kuasa Tuhan untuk menyelesaikan semua masalah yang mustahil dalam pribadi, perekonomian dan nikah, buah nikah.
    Sakit menjadi sembuh. Yang mustahil menjadi tidak mustahil.



  3. Keluaran 28: 33
    28:33. Pada ujung gamis itu haruslah kaubuat buah delima dari kain ungu tua, kain ungu muda dan kain kirmizi, pada sekeliling ujung gamis itu, dan di antaranya berselang-seling giring-giring emas,

    Pada ujung jubah ada giring-giring emas--lonceng emas--dan buah delima.

    Yang ketiga: tangan Tuhan menghiasi kehidupan kita.
    Artinya: menyucikan dan mengubahkan kita dari manusia daging menjadi manusia rohani seperti Yesus.

    1 Petrus 3: 3-5
    3:3. Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah,
    3:4. tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang
    lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah.
    3:5. Sebab demikianlah caranya perempuan-perempuan kudus dahulu berdandan, yaitu perempuan-perempuan yang menaruh pengharapannya kepada Allah; mereka
    tunduk kepada suaminya,

    Perhiasan kita adalah lemah lembut, pendiam--tenteram--, dan penurut--tunduk.

    Lemah lembut= kemampuan untuk menerima firman sekeras apapun; kemampuan untuk mengampuni dosa orang lain dan melupakannya.

    Tenteram= berdiam diri; tidak komentar yang negatif= banyak koreksi diri lewat ketajaman pedang firman. Ditemukan dosa, harus mengaku.
    Jangan menuduh orang lain!
    Kabar mempelai membuat kita rendah hati; banyak koreksi diri dan mengakui dosa-dosa.



    Tunduk= taat dengar-dengaran sampai daging tidak bersuara lagi, sama dengan menjamah ujung jubah Tuhan, dan kuasa Tuhan bekerja atas kehidupan kita.

    Jika Yesus datang kembali kita akan diubahkan menjadi sempurna seperti Dia; menjadi mempelai wanita yang siap untuk menyambut kedatangan-Nya kembali kedua kali di awan-awan yang permai. Kita masuk perjamuan kawin Anak Domba, kerajaan Seribu Tahun Damai (Firdaus yang akan datang), dan Yerusalem baru selamanya.


Apapun keadaan kita, jamah ujung jubah Tuhan!

Tuhan memberkati.